TEBO ILIR ~ Deteksijambi.com — Di balik kejayaan yang pernah dirasakan, ada perjuangan panjang yang tidak selalu terlihat. Ada langkah yang ditempuh dari bawah, pintu yang diketuk demi mencari dukungan, harapan yang sempat tumbuh, hingga kenyataan pahit ketika sebuah mimpi harus terhenti. Namun, bagi Azzam, Air Panas Sungai Bengkal bukan sekadar tempat wisata. Ia adalah perjuangan, pengabdian, dan harapan yang belum selesai.
SUNGAI BENGKAL, KABUPATEN TEBO — Tidak semua orang bersedia menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan perjuangannya untuk membangun potensi sebuah kampung. Terlebih ketika jalan yang ditempuh tidak mudah, dukungan belum selalu tersedia, dan hasil yang diharapkan tidak dapat diraih dalam waktu singkat.
Namun, bagi Azzam, potensi Wisata Alam Air Panas Sungai Bengkal terlalu berharga untuk dibiarkan begitu saja.
Dari tempat inilah sebuah perjalanan panjang dimulai. Perjalanan seorang putra daerah yang berusaha membuktikan bahwa potensi alam kampung halaman dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata yang bernilai ekonomi, membuka peluang usaha, dan menjadi sumber kebangkitan masyarakat.
Kini, setelah melewati masa kejayaan dan menghadapi berbagai keterbatasan, mimpi itu kembali menemukan secercah harapan melalui kehadiran anggota DPR RI Komisi XII, H. Cek Endra, bersama rombongan pejabat lainnya.
Tetapi untuk memahami mengapa harapan tersebut begitu berarti, kita perlu kembali menelusuri jejak perjuangan Azzam.
Babak Pertama: Ketika Sebuah Potensi Mulai Diperjuangkan
Pada awalnya, Air Panas Sungai Bengkal bukanlah destinasi yang bisa tumbuh dengan sendirinya. Potensi alam saja tidak cukup untuk menjadikannya tempat wisata yang berkembang. Diperlukan gagasan, keberanian memulai, pembangunan, pengelolaan, dan kesediaan menghadapi berbagai persoalan di lapangan.
Di sinilah Azzam mulai mengambil peran.
Ia terlibat dalam perjalanan perintisan wisata, mulai dari proses pembebasan lahan, pengadaan proyek pembangunan, hingga pengelolaan kawasan. Setiap tahapan menjadi bagian dari upaya mewujudkan sebuah mimpi besar: mengangkat potensi Air Panas Sungai Bengkal agar dikenal lebih luas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Perjuangan seperti ini tidak berhenti pada membangun sesuatu yang terlihat secara fisik. Ada pekerjaan yang harus dipikirkan setelahnya. Bagaimana kawasan dikelola? Bagaimana pengunjung tertarik datang? Bagaimana fasilitas dipelihara? Dan bagaimana kegiatan wisata bisa menghasilkan perputaran ekonomi bagi warga sekitar?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadikan perjuangan membangun pariwisata jauh lebih kompleks daripada sekadar membuka sebuah tempat wisata.
Azzam melihat bahwa jika dikelola dengan baik, Air Panas Sungai Bengkal dapat menjadi pintu masuk bagi berkembangnya usaha masyarakat.
Pedagang makanan dan minuman, penjual produk lokal, penyedia jasa, serta pelaku UMKM lainnya berpeluang mendapatkan manfaat ketika pengunjung datang dan aktivitas wisata bergerak.
Baginya, membangun pariwisata berarti membangun ekosistem ekonomi. Destinasi harus hidup, masyarakat harus dilibatkan, dan manfaatnya harus dapat dirasakan bersama.
Babak Kedua: Masa Kejayaan yang Pernah Menjadi Kebanggaan
Perjuangan itu perlahan membuahkan hasil.
Air Panas Sungai Bengkal pernah melewati masa kejayaan selama kurang lebih tiga tahun, ketika berbagai wahana pendukung dibangun untuk memberikan hiburan dan menambah daya tarik bagi pengunjung.
Berbagai event juga pernah diselenggarakan. Kawasan wisata tidak hanya diharapkan menjadi tempat orang menikmati air panas alami, tetapi juga ruang rekreasi, pertemuan masyarakat, dan kegiatan yang dapat menarik perhatian lebih luas.
Masa itu menjadi bukti bahwa potensi wisata Sungai Bengkal pernah memiliki daya hidup.
Di balik setiap wahana yang dibangun dan kegiatan yang diselenggarakan, terdapat gagasan tentang bagaimana pengunjung dapat datang, menikmati pengalaman wisata, dan turut menggerakkan ekonomi masyarakat.
Bayangkan jika geliat tersebut dapat terus berkembang. Semakin banyak pengunjung berarti semakin terbuka kesempatan bagi pedagang untuk berjualan, UMKM untuk memasarkan produk, dan masyarakat untuk memperoleh peluang usaha baru.
Inilah salah satu alasan mengapa Azzam menaruh perhatian besar terhadap keberlangsungan wisata tersebut.
Ia tidak hanya ingin melihat sebuah kawasan ramai dikunjungi. Ia ingin melihat potensi alam berubah menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat bagi masyarakat Sungai Bengkal.
Namun, mempertahankan kejayaan ternyata membutuhkan perjuangan yang tidak kalah berat daripada memulainya.
Babak Ketiga: Dari Pengelola Lokal Menjadi Narasumber Pariwisata
Pengalaman mengembangkan Air Panas Sungai Bengkal membawa Azzam melangkah lebih jauh.
Wisata ini pernah menjadi contoh awal pengelolaan pariwisata di Kabupaten Tebo. Pengalaman yang diperoleh dari proses perintisan dan pengelolaan membuat Azzam mendapat kesempatan menjadi narasumber dalam berbagai pelatihan dan kegiatan kepariwisataan, bahkan hingga tingkat nasional.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa upaya membangun potensi lokal dapat menghasilkan pengalaman yang bernilai bagi pengembangan pariwisata di tempat lain.
Dari sebuah kawasan wisata di kampung halaman, Azzam membawa pengalaman mengenai pengelolaan destinasi, pengembangan daya tarik, dan pentingnya membangun aktivitas wisata yang mampu menarik masyarakat.
Namun, pengalaman juga memperlihatkan bahwa keberhasilan pariwisata tidak dapat bergantung pada kemampuan seorang pengelola semata.
Pariwisata membutuhkan sistem yang kuat. Diperlukan perencanaan jangka panjang, dukungan kelembagaan, kepastian aturan, pembiayaan operasional, serta kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta.
Tanpa fondasi tersebut, sebuah destinasi yang pernah berkembang sekalipun dapat menghadapi kesulitan untuk mempertahankan keberlangsungannya.
Babak Keempat: Mengetuk Pintu Gubernur, Membawa Mimpi Sungai Bengkal
Azzam tidak ingin Air Panas Sungai Bengkal hanya berkembang dalam lingkup yang terbatas.
Ia berusaha memperkenalkan potensi wisata itu kepada pihak-pihak yang diharapkan dapat memberikan dukungan lebih besar. Salah satu langkah yang pernah ditempuhnya adalah bertemu langsung dengan Gubernur Jambi, Al Haris, di rumah dinas gubernur.
Dalam pertemuan tersebut, Azzam membawa gagasan untuk menghadirkan gubernur dalam sebuah festival yang direncanakan menjadi momentum promosi wisata Air Panas Sungai Bengkal.
Sebuah langkah yang lahir dari harapan agar destinasi tersebut mendapatkan perhatian lebih luas dan memiliki kesempatan untuk berkembang.
Menurut penuturannya, proposal yang diajukan sempat mendapatkan persetujuan terkait rencana kehadiran gubernur.
Harapan pun terbuka. Festival itu berpotensi menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali Sungai Bengkal sebagai destinasi yang layak diperhitungkan.
Namun, rencana besar memerlukan persiapan yang matang. Kesiapan pelaksanaan yang belum optimal menjadi salah satu kendala sehingga rencana tersebut belum dapat diwujudkan sebagaimana yang diharapkan.
Pengalaman itu tentu menyisakan pelajaran penting: peluang harus disertai kesiapan, perencanaan, dan koordinasi yang baik.
Tetapi bagi Azzam, satu rencana yang belum terwujud bukanlah alasan untuk berhenti memperjuangkan rencana lainnya.
Ia terus mencari jalan.
Babak Kelima: Mencari Investor, Terbentur Kepastian Regulasi
Salah satu tantangan terbesar dalam membangun destinasi wisata adalah pembiayaan.
Membangun fasilitas membutuhkan modal. Memelihara wahana membutuhkan biaya. Menggelar event membutuhkan persiapan. Sementara promosi dan pengembangan destinasi memerlukan dukungan yang berkelanjutan.
Azzam menyadari bahwa untuk membawa Air Panas Sungai Bengkal ke tahap yang lebih maju, diperlukan dukungan investasi.
Ia pun berupaya melakukan lobi ke berbagai pihak dan mencari investor yang bersedia melihat potensi kawasan tersebut.
Langkah itu tidak selalu mudah. Investor membutuhkan kepastian mengenai tata kelola, status aset dan lahan, mekanisme kerja sama, serta aturan yang menjadi dasar pengembangan usaha.
Dalam perjuangan yang dijalaninya saat itu, Azzam menghadapi kendala terkait belum adanya peraturan daerah yang secara jelas mengatur pengembangan pariwisata di Kabupaten Tebo.
Situasi tersebut menjadi salah satu hambatan yang dirasakannya dalam upaya menarik investasi.
Di sinilah perjuangan seorang perintis berhadapan dengan persoalan yang lebih besar daripada kemampuan pengelolaan di lapangan.
Sebuah destinasi bisa memiliki potensi alam. Pengelolanya bisa memiliki gagasan. Masyarakat bisa berharap. Namun, tanpa kepastian regulasi dan mekanisme kerja sama yang jelas, upaya pengembangan dapat berjalan lambat.
Azzam terus berusaha mencari celah agar pembangunan dapat dilanjutkan. Ia tidak hanya memikirkan apa yang bisa dilakukan hari ini, tetapi juga bagaimana Air Panas Sungai Bengkal dapat memiliki masa depan yang lebih terjamin.
Babak Keenam: Membawa Aspirasi hingga ke Tingkat Pusat
Ketika berbagai upaya masih menghadapi hambatan, Azzam tidak membatasi perjuangannya hanya di tingkat lokal.
Ia pernah menghadiri kegiatan yang melibatkan staf ahli DPR RI untuk menyampaikan usulan mengenai kelanjutan pembangunan Air Panas Sungai Bengkal.
Langkah tersebut menjadi bagian dari ikhtiarnya mencari perhatian dan dukungan agar pengembangan destinasi tidak berhenti di tengah jalan.
Ia berharap ada pihak yang dapat membantu membuka jalan, mempertemukan kepentingan, dan mendorong penyelesaian persoalan yang menghambat pengembangan kawasan wisata.
Bagi Azzam, perjuangan ini bukan soal membuktikan bahwa dirinya pernah membangun sesuatu.
Lebih dari itu, ia ingin agar apa yang telah dirintis tidak kehilangan kesempatan untuk memberikan manfaat lebih besar.
Sebab, jika Air Panas Sungai Bengkal dapat kembali berkembang, dampaknya berpotensi menjangkau banyak lapisan masyarakat.
UMKM bisa mendapatkan pasar baru. Pedagang bisa memperoleh peluang penghasilan. Anak-anak muda bisa terlibat dalam kegiatan ekonomi kreatif dan pelayanan wisata. Produk lokal memiliki kesempatan untuk diperkenalkan kepada pengunjung dari luar daerah.
Pariwisata, jika dirancang dengan baik, dapat menjadi penghubung antara potensi alam dan kesejahteraan masyarakat.
Itulah visi yang ingin terus diperjuangkan.
Babak Ketujuh: Tahun 2018, Ketika Langkah Azzam Harus Berubah
Perjalanan yang panjang akhirnya memasuki babak yang berbeda.
Pada 2018, kiprah Azzam dalam pengelolaan Air Panas Sungai Bengkal terhenti seiring keputusannya meninggalkan kampung halaman dan berhijrah ke kampung halaman istrinya.
Jarak memisahkannya dari kawasan yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup dan perjuangannya.
Ada fase ketika seseorang harus melanjutkan perjalanan hidupnya di tempat lain, meskipun sebagian harapannya masih tertinggal di tempat yang pernah diperjuangkannya.
Bagi Azzam, Air Panas Sungai Bengkal bukan sekadar lokasi pekerjaan yang pernah ditinggalkan. Tempat itu menyimpan pengalaman, perjuangan, dan mimpi yang pernah ia bangun bersama perjalanan pengembangan wisata.
Tahun demi tahun berlalu. Namun, keinginan untuk melihat kawasan itu kembali berkembang tidak sepenuhnya hilang.
Ia masih kerap pulang ke Sungai Bengkal. Ia masih menjalin komunikasi dan berupaya mencari solusi bersama warga setempat agar wisata tersebut dapat kembali hidup.
Akan tetapi, niat baik saja belum cukup untuk menyelesaikan persoalan yang telah berlangsung lama.
Babak Kedelapan: Ketika Semangat Harus Berhadapan dengan Biaya Operasional
Salah satu persoalan yang masih menjadi perhatian adalah keterbatasan anggaran dan biaya operasional.
Menurut pengalaman yang disampaikan Azzam, pengelolaan Air Panas Sungai Bengkal masih mengandalkan pendapatan swakelola sendiri, sementara dukungan pendanaan untuk operasional dan pengembangan dari APBD Kabupaten Tebo belum memadai sesuai kebutuhan yang diharapkan.
Kondisi ini menghadirkan tantangan besar.
Destinasi wisata tidak cukup hanya dibangun. Ia harus dirawat, dijaga, diperbaiki, dipromosikan, dan dikembangkan agar tetap menarik bagi pengunjung.
Fasilitas membutuhkan pemeliharaan. Kebersihan harus dijaga. Keamanan dan kenyamanan pengunjung harus diperhatikan. Kegiatan promosi juga harus terus dilakukan agar destinasi tidak kehilangan daya tarik.
Semua itu membutuhkan biaya dan sistem pengelolaan yang berkelanjutan.
Jika pendapatan kawasan masih terbatas, kemampuan untuk membiayai seluruh kebutuhan tersebut tentu ikut terbatas.
Di sinilah pentingnya membangun skema pengelolaan yang realistis dan transparan, disertai dukungan pemerintah sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku.
Kebangkitan Air Panas Sungai Bengkal tidak cukup hanya dengan mengingat masa kejayaannya. Diperlukan evaluasi terhadap persoalan yang pernah menghambat, perencanaan yang matang, dan kesepakatan bersama mengenai siapa melakukan apa untuk memastikan keberlanjutannya.
Azzam memahami bahwa tantangan ini tidak bisa diselesaikan oleh satu orang saja.
Namun, ia berharap pengalaman perjuangan yang telah dilaluinya dapat menjadi bahan pembelajaran agar kesempatan berikutnya tidak kembali terhenti karena persoalan yang sama.
Babak Kesembilan: Harapan Baru dari Kehadiran H. Cek Endra
Setelah perjalanan panjang yang diwarnai berbagai upaya dan keterbatasan, perhatian kembali tertuju kepada Air Panas Sungai Bengkal.
Kehadiran anggota DPR RI Komisi XII, H. Cek Endra, bersama rombongan dan sejumlah pejabat lainnya, membawa secercah harapan baru bagi masa depan destinasi tersebut.
Bagi Azzam dan masyarakat yang menginginkan kebangkitan wisata Sungai Bengkal, momentum ini menjadi kesempatan untuk kembali menempatkan potensi kawasan tersebut dalam perhatian para pemangku kepentingan.
Harapan itu bukan semata-mata tentang pembangunan fisik atau kembalinya wahana seperti pada masa lalu.
Yang lebih penting adalah bagaimana kunjungan dan perhatian tersebut dapat berlanjut menjadi pembicaraan yang konkret, pemetaan persoalan, koordinasi antarlembaga, dan tindak lanjut sesuai kewenangan masing-masing.
Apakah ada peluang untuk membantu pembenahan fasilitas? Bagaimana persoalan tata kelola dan pendanaan dapat dicarikan solusi? Dukungan apa yang dibutuhkan agar UMKM lokal bisa menjadi bagian dari pengembangan wisata?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang perlu mendapatkan jawaban.
Sebab, sebuah kunjungan dapat menjadi awal perhatian, tetapi kebangkitan destinasi membutuhkan kesinambungan tindakan.
Bagi Azzam, kehadiran H. Cek Endra dan rombongan menjadi secercah harapan bahwa perjuangan yang pernah dilakukan tidak harus berakhir sebagai cerita masa lalu.
Kini, yang dibutuhkan adalah langkah bersama untuk memastikan potensi itu memiliki masa depan.
Babak Kesepuluh: Membangkitkan Wisata, Menghidupkan UMKM
Di balik perjuangan membangkitkan Air Panas Sungai Bengkal, terdapat tujuan yang lebih luas daripada sekadar mengembalikan keramaian pengunjung.
Ada harapan untuk menjadikan pariwisata sebagai penggerak ekonomi masyarakat.
Ketika sebuah destinasi berkembang, manfaatnya dapat menjalar ke berbagai usaha di sekitarnya. Pengunjung membutuhkan makanan dan minuman, tempat beristirahat, produk lokal, cendera mata, serta berbagai layanan penunjang lainnya.
Peluang tersebut dapat menjadi ruang bagi UMKM untuk tumbuh.
Karena itu, kebangkitan Air Panas Sungai Bengkal idealnya disertai program pemberdayaan yang nyata. Pelaku UMKM perlu mendapatkan ruang berjualan yang layak, pendampingan usaha, promosi produk, akses terhadap kegiatan wisata, dan kesempatan untuk berkolaborasi dalam penyelenggaraan event.
Pemuda setempat juga dapat dilibatkan dalam promosi digital, dokumentasi, pengelolaan kegiatan, dan pengembangan pengalaman wisata.
Dengan cara itu, keberhasilan destinasi tidak hanya diukur dari berapa banyak orang yang datang, tetapi juga dari seberapa besar perputaran ekonomi yang tercipta dan seberapa luas masyarakat dapat mengambil bagian.
Inilah makna kebangkitan yang sesungguhnya: ketika potensi alam bukan hanya menjadi kebanggaan, melainkan juga sumber peluang dan penghidupan.
Penutup: Perjuangan Itu Belum Selesai
Perjalanan Azzam mengajarkan bahwa membangun pariwisata membutuhkan lebih dari sekadar gagasan besar.
Ia membutuhkan keberanian untuk memulai, ketekunan menghadapi persoalan, kemampuan membangun kerja sama, kepastian tata kelola, serta dukungan yang berkesinambungan.
Azzam pernah berada di tengah proses perintisan Air Panas Sungai Bengkal. Ia pernah menyaksikan masa kejayaannya, terlibat dalam berbagai kegiatan, memperluas pengalaman hingga menjadi narasumber, mencari dukungan gubernur, menjajaki investor, dan membawa usulan pembangunan ke tingkat pusat.
Ia juga merasakan kenyataan ketika perjalanan yang telah dibangun harus terhenti.
Namun, jarak dan waktu tidak sepenuhnya memadamkan harapan itu. Ia masih kembali ke kampung halaman, masih berupaya berdiskusi bersama warga, dan masih mencari jalan agar wisata tersebut dapat bangkit kembali.
Kini, kehadiran H. Cek Endra bersama rombongan pejabat lainnya membuka kesempatan baru yang patut ditindaklanjuti.
Masyarakat tentu berharap perhatian itu tidak berhenti pada kunjungan, melainkan berkembang menjadi langkah nyata yang mampu menjawab persoalan pengelolaan, fasilitas, pendanaan, promosi, dan pemberdayaan UMKM.
Sebab, yang sedang diperjuangkan bukan hanya nasib sebuah destinasi wisata.
Yang sedang diperjuangkan adalah peluang ekonomi masyarakat, masa depan pelaku usaha kecil, ruang bagi generasi muda untuk berkembang, serta kebanggaan terhadap potensi kampung halaman.
Air Panas Sungai Bengkal pernah berjaya. Perjalanannya sempat terhenti. Namun, selama masih ada kemauan untuk berbenah dan bekerja bersama, harapan untuk bangkit tetap terbuka.
Dan bagi Azzam, perjuangan itu bukan sekadar tentang apa yang pernah ia bangun, melainkan tentang apa yang masih mungkin diwujudkan demi masyarakat Sungai Bengkal.
Karena sebuah mimpi tidak selalu berakhir ketika langkah pertama terhenti. Terkadang, ia hanya menunggu kesempatan, dukungan, dan keberanian baru untuk kembali diperjuangkan.##














