Sandera Baru Gaza: Ketika “Perdamaian” Menjadi Topeng Penjajahan

Oleh Fitria Damayanti, M.Eng

Deteksijambi.com ~ Di tengah puing-puing yang masih berasap, Gaza kembali menjadi panggung bagi drama penyesatan opini internasional. Kondisi wilayah itu tetap memilukan: kehancuran merata, kelaparan mengancam, dan ratusan ribu jiwa bertahan di tenda-tenda pengungsian sementara pendidikan anak-anak terhenti total (CNN Indonesia, 25 Februari 2026).

 Di Tepi Barat, kekerasan tak pernah reda; pemukim Israel membakar tenda dan kendaraan warga, penembakan oleh tentara IDF terus terjadi, dan remaja Palestina tewas ditembak (CNN Indonesia, 27 Februari 2026; Antaranews.com, 27 Februari 2026).

 Di sinilah Board of Peace (BoP) buatan Donald Trump hadir, menawarkan “solusi” di tengah penderitaan yang nyata.

Pembentukan Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG) yang beranggotakan 15 teknokrat Palestina menjadi instrumen baru dalam skenario ini (CNN Indonesia, 20 Februari 2026). NCAG yang dipimpin Ali Shaath ini akan mengawasi pelucutan senjata, mempertahankan satu hukum dan satu rantai komando, serta mengintegrasikan atau membubarkan semua kelompok bersenjata (CNN Indonesia, 20 Februari 2026).

 Padahal, warga Palestina sendiri skeptis terhadap BoP, karena selama ini AS selalu berpihak pada Israel, bahkan menggunakan hak veto di PBB untuk membelanya (CNN Indonesia, 23 Februari 2026). 

Kecurigaan ini beralasan, mengingat Israel telah ratusan kali melanggar perjanjian damai dan menunjukkan bahwa perdamaian bagi mereka hanyalah instrumen untuk mengonsolidasikan kontrol.

BoP, NCAG, dan Industri Penyesatan

Antony Loewenstein dalam bukunya The Palestine Laboratory: How Israel Exports the Technology of Occupation Around the World mengungkap bagaimana Palestina telah menjadi laboratorium sempurna bagi kompleks militer-tekno Israel. Selama lebih dari lima dekade pendudukan, Israel mengembangkan dan menguji teknologi pengawasan, penghancuran rumah, dan penahanan tak terbatas di tanah Palestina, lalu mengekspornya ke seluruh dunia.

 Loewenstein mendokumentasikan bagaimana pengalaman mengontrol populasi “musuh” ini menjadi komoditas berharga yang dijual ke berbagai rezim. Dalam kerangka ini, BoP dan NCAG adalah perpanjangan dari laboratorium yang sama: instrumen untuk mengontrol, bukan membebaskan.

Norman Finkelstein dalam Gaza: An Inquest Into Its Martyrdom memberikan dokumentasi paling lengkap tentang penderitaan Gaza melalui analisis mendalam atas laporan PBB dan investigasi organisasi HAM internasional.

 Finkelstein menunjukkan bagaimana hukum internasional diterapkan secara selektif ketika menyangkut Gaza, di mana laporan-laporan penting tentang kejahatan perang sering diredam oleh tekanan politik. Inilah konteks yang menjelaskan mengapa NCAG, meskipun berpura-pura mewakili Palestina, sejatinya adalah alat untuk melegitimasi pembersihan etnis yang tengah berlangsung. Tidak ada satu pun perwakilan Palestina sejati di dewan-dewan yang mengklaim memperjuangkan kepentingan mereka.

Ilan Pappe dalam The Biggest Prison on Earth melukiskan bagaimana Tepi Barat dan Gaza adalah dua sisi dari “penjara terbuka” yang sama. Kekerasan pemukim, pembunuhan oleh tentara, dan penggusuran adalah fitur permanen dari sistem yang menindas ini. Bersama Noam Chomsky dalam On Palestine, Pappe mengupas bagaimana kolaborasi negara-negara Muslim dengan inisiatif AS-Israel sering menjadi tameng yang memutihkan kejahatan.

 BoP dan NCAG adalah instrumen penyesatan opini terkini: dengan melibatkan teknokrat Palestina dan menggaet penguasa negeri Muslim, mereka menciptakan ilusi solusi damai yang legitimate. Padahal, semua ini hanya untuk mengamankan agenda yang menghapus perlawanan dan merampas tanah Palestina.

Kebangkitan Islam dengan Kepemimpinan yang Menyatukan Umat

Allah SWT telah memperingatkan kaum muslimin tentang siapa musuh sejati mereka. “Sungguh, kamu akan dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (QS Al-Maidah: 82). 

Ayat ini menegaskan bahwa perdamaian dengan entitas yang secara aktif memusuhi Islam dan membantai umatnya bukanlah pilihan. Janji-janji Israel terbukti hanya tipu daya, seperti firman Allah: “Setiap kali mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya. Mereka berusaha berbuat kerusakan di bumi, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS Al-Maidah: 64).

 Kaum muslimin haram bergantung pada solusi yang ditawarkan oleh pihak yang jelas-jelas menindas saudara mereka sendiri.

Umat Islam harus sadar bahwa Board of Peace dan NCAG adalah topeng dari kejahatan yang sama. Allah berfirman, “Mereka (orang-orang munafik) menunggu-nunggu peristiwa yang akan menimpa dirimu. Apabila kamu mendapat kemenangan dari Allah, mereka berkata, ‘Bukankah kami bersama kamu?’ Dan apabila orang-orang kafir mendapat keberuntungan, mereka berkata, ‘Bukankah kami turut memenangkanmu dan membela kamu dari orang-orang mukmin?'” (QS An-Nisa: 141).

 Ayat ini membuka mata kita terhadap bahaya pengkhianatan dari penguasa negeri Muslim yang memilih bersekutu dengan BoP buatan AS, di mana Israel duduk di dalamnya. Mereka adalah bagian dari masalah, karena memilih solusi dari penjajah, bukan dari Islam.

Kegagalan sistem internasional dan kompromi politik yang tak kunjung membawa keadilan membuktikan satu kebenaran: tidak akan ada keadilan bagi Palestina tanpa kembalinya umat Islam pada sistem yang diridhai Allah. Allah berjanji dalam surat An-Nur ayat 55, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.” Janji ini adalah hukum sejarah yang pasti, bahwa kepemimpinan Islam akan tegak kembali.

 Tugas kita adalah bekerja untuk mewujudkannya, dengan membangun kesadaran bahwa tidak ada solusi parsial yang mampu mengatasi akar masalah: tidak adanya kekuatan yang mewakili kepentingan umat secara sah dan kolektif.

Hanya dengan bersatu di bawah satu panji kepemimpinan Islam, kaum muslimin dapat memobilisasi seluruh potensi mereka. Kekuatan minyak, sumber daya manusia, posisi strategis, dan pengaruh politik yang tersebar di 57 negara Muslim akan menjadi kekuatan dahsyat jika disatukan dalam satu sistem. Israel dan sekutunya tahu persis bahwa mimpi terburuk mereka adalah bersatunya umat Islam.

 Karena itulah mereka terus memecah belah, mengadu domba, dan menciptakan konflik antar saudara. Kesadaran ini harus mendorong kita untuk tidak hanya bersolidaritas secara emosional, tetapi juga bekerja secara sistematis untuk mewujudkan kepemimpinan yang mampu membebaskan Palestina dan mengembalikan martabat umat.**

Allahu a’lam bishawwab.