Gaza Berpuasa di Bawah Reruntuhan, Idul Fitri Hanya Nama

_Oleh Fitria Damayanti, M.Eng_

Deteksijambi.com ~ Warga Gaza merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah di tengah kehancuran yang masih menyisakan duka mendalam. Takbir bergema dari tenda-tenda pengungsian dan reruntuhan bangunan, menggantikan masjid-masjid yang telah luluh lantak akibat agresi Israel. 

Ribuan warga Gaza melaksanakan salat Id di lapangan terbuka atau di antara puing-puing rumah mereka yang hancur. Di Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, pasukan Israel melarang warga Palestina untuk melaksanakan salat Id, memaksa mereka beribadah di jalanan sekitar kompleks masjid.

Duka nestapa warga Gaza seolah tak berujung, bahkan di hari kemenangan yang seharusnya penuh kebahagiaan. Ironi semakin terasa ketika konflik antara AS-Israel dengan Iran menyedot perhatian dunia, sementara penderitaan Gaza mulai terlupakan.

 Negara-negara Arab Teluk yang kaya raya justru bersekutu dengan negara-negara kafir dalam memerangi Iran, mengabaikan derita saudara-saudara mereka di Palestina. Hari raya yang identik dengan kebersamaan dan keceriaan berubah menjadi momen pilu yang menyayat hati.

Idul Fitri yang Terlupakan: Nestapa Gaza di Tengah Konspirasi Global

Penderitaan Gaza yang berlarut-larut bukanlah kejadian alamiah, melainkan konsekuensi dari politik global yang sistematis mengabaikan hak-hak rakyat Palestina.

 Norman Finkelstein dalam bukunya Gaza: An Inquest Into Its Martyrdom mendokumentasikan dengan teliti bagaimana Gaza telah menjadi laboratorium penghukuman kolektif Israel. Finkelstein menunjukkan bahwa laporan-laporan PBB dan organisasi HAM internasional yang mengungkap kejahatan perang Israel selalu diredam oleh tekanan politik negara-negara besar.

 Inilah sebabnya mengapa penderitaan Gaza terus berulang tanpa penyelesaian yang berarti, bahkan di hari raya sekalipun.

Noam Chomsky dan Ilan Pappe dalam On Palestine mengupas bagaimana kolaborasi negara-negara Arab dengan AS-Israel menjadi faktor kunci yang memperpanjang penderitaan Palestina. Negara-negara Teluk yang bersekutu dengan kekuatan penjajah dalam perang melawan Iran menunjukkan bahwa kepentingan politik sesaat telah mengalahkan solidaritas keislaman.

 Chomsky menekankan bahwa tanpa persatuan umat Islam yang tulus, Palestina akan terus menjadi korban permainan kekuasaan global. Idul Fitri yang dilalui Gaza dalam kondisi mengenaskan harusnya menjadi peringatan bahwa umat Islam sedang gagal menjalankan kewajiban persaudaraan mereka.

Analisis yang lebih tajam datang dari Profesor Jiang Xueqin, seorang pendidik dan sejarawan yang berbasis di Beijing dengan kanal YouTube Predictive History. Jiang berargumen bahwa konflik di Gaza seharusnya tidak dipahami hanya dalam kerangka politik atau militer, tetapi juga sebagai ritual pengorbanan manusia modern—yang dirancang untuk menghasilkan kejutan di panggung dunia guna mempersatukan warga Israel melalui kemarahan kolektif dan tujuan bersama.

 Dalam kerangka analisisnya tentang kebangkitan dan keruntuhan peradaban, Jiang melihat Israel saat ini sebagai kekuatan yang memiliki “energi, keterbukaan, dan kohesi”—tiga faktor yang menurutnya mendorong kebangkitan imperium baru yang disebutnya Pax Judaica.

Menurut Jiang, yang terjadi di Gaza bukan sekadar konflik teritorial biasa, tetapi bagian dari transformasi besar menuju tatanan global baru di mana Israel tidak lagi berfungsi sebagai negara-bangsa tradisional, melainkan sebagai simpul komando logistik yang terintegrasi dengan koridor Gaza, proyek Terusan Ben-Gurion, dan aliansi modal strategis. 

Ia berargumen bahwa kedaulatan negara saat ini telah bergeser menjadi kedaulatan infrastruktur—di mana pelabuhan, rute perdagangan, jaringan pengawasan, dan pembiayaan transnasional lebih menentukan otoritas daripada representasi politik atau ideologi. Jiang memperingatkan bahwa tujuan akhir dari skenario ini adalah menghancurkan Iran, kemudian secara bertahap menaklukkan Turki, Mesir, dan Arab Saudi dalam rangka mewujudkan Pax Judaica.

Lebih jauh, Jiang menawarkan perspektif yang lebih kontroversial: ia melihat genosida di Gaza sebagai bentuk ritual pengorbanan yang melampaui logika politik konvensional. Menurutnya, kekerasan skala besar dalam sejarah sering berfungsi sebagai ritual yang mengikat komunitas melalui penderitaan kolektif dan membangun kohesi sosial di kalangan pelaku. 

Dalam konteks ini, penderitaan warga Gaza yang terus berlangsung bahkan di hari raya adalah “pengorbanan” yang harus dibaca dalam kerangka simbolik yang lebih luas—di mana nyawa manusia menjadi taruhan bagi proyek geopolitik besar yang sedang dibangun. Inilah yang menjelaskan ironi negara-negara Arab Teluk yang justru bersekutu dengan kekuatan penjajah: mereka adalah bagian dari jaringan ekonomi baru yang sama.

Solusi Islam: Membangun Persatuan Melawan Penjajahan

Al-Qur’an mengajarkan umat Islam untuk bersikap lemah lembut terhadap sesama mukmin dan tegas terhadap orang kafir yang memusuhi Islam. Firman Allah dalam QS Al-Fath ayat 29 menegaskan ciri orang-orang beriman adalah keras terhadap orang kafir dan berkasih sayang terhadap sesama. Prinsip ini harus menjadi landasan dalam menyikapi penderitaan Gaza, di mana penjajah Israel dan sekutunya harus dilawan dengan tegas.

 Ukhuwah Islamiyah menjadi pengikat yang wajib diwujudkan dalam aksi nyata, bukan sekadar retorika belaka.

Allah memerintahkan kaum mukmin untuk berjihad di jalan-Nya, sebagaimana dalam QS At-Taubah ayat 123: “Wahai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kamu.” Perintah ini menunjukkan bahwa membela saudara-saudara yang tertindas adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar.

 Jihad bukan hanya perang fisik, tetapi juga perjuangan dengan harta, pikiran, dan seluruh potensi umat untuk membebaskan Palestina. Namun, jihad hanya akan sempurna jika kaum muslimin bersatu di bawah satu kepemimpinan yang sah.

Umat Islam harus membangun kekuatan global dengan bersatu dan menegakkan kembali Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Hanya dengan satu kepemimpinan yang sah, seluruh potensi umat dapat dimobilisasi untuk melawan dominasi penjajahan AS dan Israel.

 Negara-negara Muslim yang kaya raya harus mengalihkan dukungan mereka dari penjajah kepada perjuangan pembebasan Palestina. Persatuan ini akan mengubah posisi umat Islam dari lemah dan terpecah menjadi kekuatan yang disegani.

Idul Fitri di tengah reruntuhan Gaza harus menjadi momen refleksi bagi seluruh umat Islam. Rasa sakit yang dirasakan saudara-saudara di Palestina adalah rasa sakit bersama. Tidak boleh ada lagi negara Muslim yang bersekutu dengan penjajah, tidak boleh ada lagi umat Islam yang diam melihat penderitaan saudaranya.

 Hanya dengan kembali kepada ajaran Islam yang utuh, bersatu di bawah satu panji kepemimpinan, dan mengerahkan seluruh kekuatan untuk berjihad di jalan Allah, Palestina akan terbebas dari penjajahan yang telah merenggut kebahagiaan mereka, bahkan di hari yang seharusnya penuh kemenangan.

Allahu a’lam bishawwab**