Oleh: Sarinah.
Deteksijambi.com ~ Perkumpulan Hijau melontarkan kritik keras terhadap efektivitas ratusan sumur bor yang dibangun oleh Badan Restorasi Gambut dan Mangrove di wilayah gambut Jambi, di tengah meningkatnya ancaman fenomena iklim ekstrim El Nino yang kerap disebut sebagai “Godzilla El Nino”.
Fenomena “Godzilla El Nino” merujuk pada kondisi pemanasan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik yang sangat kuat, yang berdampak langsung pada kemarau panjang, penurunan curah hujan drastis, serta pengeringan masif ekosistem gambut.
Dalam situasi ini, lahan gambut berubah menjadi sangat mudah terbakar, bahkan dapat memicu kebakaran besar yang sulit dikendalikan dan berlangsung berbulan-bulan.
Berdasarkan komplikasi data lapangan dan laporan program, jumlah sumur bor yang telah dibangun BRGM di Provinsi Jambi diperkirakan mencapai 1.200 unit.
Direktur Perkumpulan Hijau, Feri Irawan, menyatakan bahwa dalam konteks ancaman El Nino ekstrim, kegagalan fungsi sumur bor berpotensi menjadi titik lemah serius dalam sistem pencegahan kebakaran ( JAMBIUPDATE 23 April 2026).
Sejatinya keberadaan sumur bor dalam jumlah yang banyak akan menimbulkan kerusakan alam. Tidak hanya itu, kesiapan dalam menghadapi “Godzilla El Nino” tidak bisa ditunda karena dampaknya besar terhadap kesehatan, lingkungan, ekonomi dan ekonomi masyarakat setempat.
Pembangunan sumur bor bukan bertujuan hanya sebagai angka dalam laporan. Dalam ancaman El Nino ekstrim, yang dibutuhkan bukanlah jumlah, melainkan fungsi nyata di lapangan. Jika tidak berfungsi saat dibutuhkan, maka keberadaannya menjadi tidak relevan.
Jika kondisi ini tidak segera dibenahi, maka resiko kebakaran besar seperti yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya sangat mungkin terulang, bahkan dengan skala yang lebih luas akibat tekanan perubahan iklim.
Dalam kondisi kekeringan panjang, muka air tanah gambut akan turun drastis hingga ke lapisan dalam. Jika sumur bor tidak mampu menyediakan air atau tidak dapat dioperasikan, maka api yang muncul akan dengan cepat menjalar ke bawah permukaan dan menjadikan kebakaran laten yang sangat sulit dipadamkan.
Hal ini bukan hanya sekedar isu lingkungan. Jika infrastruktur dasar seperti sumur bor tidak siap maka kita sedang menghadapi bencana dengan kondisi yang tidak siap. Dan ini menandakan adanya kesenjangan antara perencanaan program dan realitas implementasi di lapangan.
Beginilah ciri sistem sekuler Kapitalisme yang tegak di negeri ini, dalam mengambil langkah dan solusi untuk menyelesaikan suatu problem tidaklah menyelesaikan permasalahan hingga tuntas, malah justru akan menimbulkan masalah baru.
Kapitalisme sekuler cenderung berbuat atas dasar manfaat belaka, wajar jika segala keputusan yang diambil untuk menyelesaikan suatu permasalahan cenderung tidak efektif dan tumpang tindih oleh kebijakan yang dibuat.
Penggalian sumur bor yang banyak tentunya dapat merusak alam, dan ternyata dari banyaknya sumur bor yang dibuat tidak menjadikan fenomena ” El Nino” teratasi jika terjadi.
Hal ini menunjukkan betapa gagalnya sistem sekuler Kapitalisme dalam memberikan solusi terhadap segala permasalah yang ada.
Kapitalisme sekuler hanya mengambil solusi yang parsial, yang terkesan mudah, walaupun solusi tersebut sebenarnya tidak menyelesaikan permasalahan yang ada hingga tuntas.
Berbeda dengan sistem Islam yang memang kehadirannya adalah sebagai rahmatal Lil alamin ( rahmat bagi seluruh alam) yang melindungi keberadaan alam maupun segala sesuatu ciptaan Allah.
Dalam Islam solusi yang diambil dalam menyelesaikan seluruh perkara akan dipertimbangkan dengan sebaik mungkin. Analisa terhadap masalah dilakukan dengan cara yang mendalam dan solusi yang diambil adalah solusi yang menyelesaikan masalah hingga ke akarnya.
Hal ini tentunya sungguh berbeda dengan model penyelesaian yang diambil oleh sekuler Kapitalisme. Dalam Sekuler Kapitalisme anggaran dana yang dikeluarkan oleh negara cenderung tidak dipertimbangkan dan banyak sekali anggaran dana negara yang dihambur-hamburkan. Ini sangat berbeda dengan Sistem Islam dalam hal mengeluarkan anggaran negara.
Islam memandang dana negara adalah milik umat, sehingga harus dikelola dengan sebaik-baiknya. Hal ini tentu saja pemborosan anggaran benar-benar tidak terjadi karna kesadaran dan tanggung jawab.
Terlebih lagi dalam Islam, upaya preventif dilakukan yakni pencegahan masalah sebelum terjadi. Ini adalah langkah proaktif yang diambil untuk menghindari timbulnya resiko. Itulah keunikan sistem Islam yang tentunya standar dari penilaian dalam sistem ini adalah Ridha Allah semata.
Sistem Islam dalam menyelesaikan permasalah yang terjadi adalah merujuk terhadap sumber hukum yakni Al-Quran hadis, ijma sahabat dan qiyas. Jika tidak didapati terhadap ke empat sumber hukum tersebut maka akan ada para Mujtahid (penggali hukum) yang siap menggali hukum baru yang muncul untuk memecahkan masalah yang timbul. Hanya dengan sistem Islam seluruh permasalah akan diselesaikan.
Allahu a’lam bishawwab.**

















