Oleh: Sarinah (komunitas literasi Islam Bungo
Deteksijambi.com ~ BUNGO – Moderisasi beragama tak jarang digaungkan di negeri tercinta ini. Banyak juga kalangan yang ikut mengeluarkan narasi tentang moderasi Beragama, termasuk kalangan para Ulama dan juga menteri agama negara Republik Indonesia.
Baru-baru ini menteri agama (Menag) Republik Indonesia KH Nasaruddin Umar melakukan kunjungan kerja ke provinsi Jambi, Pada tanggal 29 Juni 2025.
Dalam kunjungannya ke provinsi Jambi Menag menghadiri wisuda UIN Sultan Thaha Syaifuddin Jambi, serta melantik pengurus Ittihad persaudaraan imam masjid (IPIM) dan mengukuhkan pemuda-pemudi lintas agama provinsi Jambi.
Menag menekankan pentingnya membangun sikap beragama yang lembut, terbuka dan tidak kaku dalam menghadapi perbedaan. Beliau juga menegaskan bahwasanya agama adalah sumber kedamaian bukan sumber ketegangan, perbedaan keyakinan tidak menjadi alasan untuk saling mencurigai
Tidak ada agama yang membenarkan kejahatan, semua agama mengajarkan kebaikan dan kasih sayang, ungkapnya (Mediajambinews.com 30 Juni 2025).
Moderasi Beragama memang semakin kokoh digangungkan kepada masyarakat, ini adalah salah satu bukti kerusakan sistemik yang diemban oleh negeri ini. Tidak hanya Moderasi Beragama bahkan islamophobia pun turut mewarnai, sehingga cukup jelas membuktikan bahwasanya sistem yang di emban saat ini adalah sistem yang rusak.
Sistem yang kini bercokol di negeri tercinta ini adalah sistem kapitalisme. Sistem kapitalisme memiliki ide sekuler, yakni memisahkan agama dalam kehidupan maupun bernegara. Sistem kapitalisme berbuat atas dasar manfaat semata tidak memperdulikan halal haramnya suatu perbuatan.
Sistem kapitalisme berbuat atas dasar manfaat, wajar jika moderasi beragama terus dinarasikan ditengah-tengah publik, karna ada pihak yang mendapat keuntungan dibaliknya.
Dalam pandangan Islam toleransi beragama adalah hal yang diperbolehkan, namun hanya pada batas yang telah ditentukan. Sedangkan moderasi beragama apalagi islamophobia sama sekali tidak boleh ada ditengah masyarakat karena keberadaannya akan merusak.
Sebagai seorang muslim kita dituntut untuk fanatik ( mendalami) agamanya Islam, sehingga terbentuklah kesadaran dalam setiap setiap individu akan adanya Allah SWT bagai Al khalik ( pencipta) sekaligus Al mudabbir ( pengatur alam semesta, manusia dan kehidupan) sehingga terbentuklah manusia yang bertakwa, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta takut Terhadap-Nya.
Dalam Al-Quran banyak sekali ayat yang memerintahkan untuk bertaqwa kepada Allah salah satu contohnya adalah surah Al-Hasr ayat 18, Allah berfirman yang artinya
” wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok ( akhirat) bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Dengan adanya ayat di atas membuktikan bahwasanya, kita harus menumbuhkan kesadaran dan pendalaman yang serius terhadap agama ( Islam) yang dianut.
Modernisasi dalam beragama seharusnya tidak digaungkan dalam masyarakat, para ulama adalah garda terdepan yang menjadi pelindung agama Islam sudah seharusnya memberangus narasi tentang ide moderasi beragama, dan senantiasa menjaga eksistensi agama Islam, mengingat agama Islam adalah agama mayoritas penduduk di indonesia. Dan sebagai seorang muslim sudah seharusnya meyakini bahwa agama yang paling benar di sisi Allah adalah agama Islam, dengan keyakinan dan kesadaran itu maka sudah seharusnya kaum muslimin menyadari bahwa dakwah adalah perintah Allah, untuk itu maka dakwah harus dilaksanakan agar peraturan Islam dapat diterapkan di negeri tercinta ini.
Allahu a’lam bishawwab.##

















