Merubah Jam Belajar Peserta Didik, Efektifkah Meningkatkan Kualitas Pendidikan?

Oleh: Sarinah (Komunitas Literasi Islam Bungo)

Deteksijambi.com ~ BUNGO JAMBI – Pendidikan adalah salah satu tonggak bagi kemajuan suatu negara. Keberhasilan sebuah negara bisa dilihat dengan melihat kualitas pendidikannya. Namun akankah pendidikan benar-benar akan lebih berkualitas jika jam belajar diubah?

Belakangan ini, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang akrab disebut KDM mengajak Bupati dan wali kota di daerah Jawa barat menerapkan jadwal belajar baru bagi siswa SMP dan SMA. Dia juga mengatakan bahwa siswa akan bersekolah dari Senin hingga jumat, dengan jam masuk mulai pukul 06.WIB (detikedu 3 juni 3025). 

KDM menemukan beberapa daerah di Jabar memiliki jadwal belajar yang berbeda untuk jenjang SMP dan SMA yang menurutnya harus diseragamkan yakni dari hari Senin hingga Jumat. Dalam surat edaran tersebut dijelaskan, kebijakan yang dibuat tersebut bertujuan untuk mengoptimalkan kemampuan belajar peserta didik serta mendukung pembentukan generasi berkarakter Pancawaluya ( sehat, baik, jujur, cerdas dan kreatif).

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto beserta pihaknya akan menanggapi serius atas ucapan KDM tersebut dan kini tengah menggodok aturan terkait sistem baru tersebut.

Kebijakan Gubernur Jawa Barat ini, tentu memunculkan respon pro dan kontra ditengah masyarakat. Jika ditelusuri, kebijakan tersebut justru berpotensi membawa dampak negatif pada anak seperti kurang tidur. Jika kebijakan tersebut dipaksakan maka akan berpotensi membahayakan kesehatan fisik dan mental peserta Didik. Anak-anak membutuhkan waktu istirhat yang cukup. Hal ini juga dapat mempengaruhi kesehatan peserta Didik karena mengubah pola makan, selain itu bagi peserta yang Didik yang rumahnya jauh dari sekolah tentu akan membuat mereka semakin kewalahan.

Jika kita telaah lebih dalam ternyata ini bukan solusi yang menyeluruh yang akan menyelesaikan problem sampai kepada akarnya. 

Kebijakan ini sebenarnya adalah kebijakan praktis yang tidak strategis dan tidak menyentuh akar permasalahan. 

Masalah output pendidikan yang kurang berkualitas dan kurang berkarakter tidak cukup hanya dengan solusi praktis memajukan jam sekolah. Tanpa adanya perubahan sistemis dan penerapan yang ada, kualitas output pendidikan akan tetap berjalan ditempat. Meski secara fakta dengan makin paginya peserta Didik masuk sekolah akan membentuk habit bangun pagi, akan tetapi akan muncul persoalan baru. 

Hal ini memang menjadi watak dari kebijakan sistem kapitalisme. Menyelesaikan satu masalah dengan menimbulkan masalah baru. Kebijakan kapitalis cenderung menyelesaikan masalah secara parsial dan solusi yang diberikan cenderung tidak tunas sampai ke akarnya. 

Berbeda dengan sistem Islam yang memiliki pandangan khas terkait pendidikan. Pendidikan dipandang sebagai salah satu jawaban bagi pembentukan dan perbaikan generasi. Sehingga pendidikan benar-benar diperhatikan dan berkualitas. 

Jika berbicara tentang pendidikan, maka hal pertama yang dibahas adalah kurikulum. Kurikulum dalam pendidikan Islam, kurikulum wajib berlandaskan syariat Islam. Aqidah Islam ditanamkan kepada peserta Didik dari jenjang sekolah paling dasar sehingga dapat membentuk individu yang berkarakter taat kepada Allah, dan memiliki dasar raqidah yang kokoh.

Dari aqidah Islam itulah akan lahir life skill yang mumpuni serta pemahaman tsaqofah Islam untuk melaksanakan tujuan hidup. Strategi pendidikan Islam adalah membentuk pola pikir Islam dan pola sikap yang islami. Dengan strategi tersebut bertujuan agar tertancap keimanan pada setiap individu muslim, sehingga mereka senantiasa merasa diawasi oleh Allah dimana pun mereka berada. Wal hasil mereka akan berhati-hati atas segala tindakan yang mereka lakukan, karena sadar bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Dengan begitulah kurikulum pendidikan Islam akan berhasil membentuk masyarakat yang kepribadian baik serta taat terhadap segala perintah dan larangan Allah.

Allahu a’lam bishawwab.##