Oleh; Sarinah.
Deteksijambi.com ~ Lagi-lagi program yang dijalankan pemerintah tidak berjalan mulus seperti yang direncanakan. Adanya problem baru yang kembali timbul di permukaan menunjukkan bahwasanya fakta tidak selalu sesuai dengan realita.
Baru baru ini terjadi kembali kasus keracunan MBG (Makanan Bergizi Gratis) di SMPN Berbah, Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Tercatat ada 135 siswa di Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang mengalami gejala keracunan usai mengkonsumsi Makanan Bergizi Gratis dikutip dari (tirto.id 27 Agustus 2025).
Kasus keracunan MBG ini sebelumnya pernah terjadi di empat sekolah, yakni SMP Muhammadiyah 1 Mlati, SMP Muhammadiyah 3 Mlati, SMP Negeri 3 Mlati dan SMP Pamungkas Mlati. Total ada 212 siswa yang keracunan. Dilansir ( Tirto.id 13 Agustus 2025).
Pengawas Farmasi dan Makanan Dinkes Sleman Gianto, mengatakan SOP (Standard Operating Procedure) konsumsi makanan adalah empat jam, setelah makanan selesai dimasak. Informasi yang didapat pada Selasa 26 Agustus 2025, makanan selesai dimasak pukul 7.30 wib dan makanan baru dikonsumsi pukul 12.00 wib. Jeda yang cukup panjang ini diduga memunculkan potensi perubahan kandungan dalam makanan sehingga bersifat racun (Harian Jogja 28 Agustus 2025).
MBG dilaksanakan karena merupakan kampanye yang dilakukan oleh presiden Prabowo saat pemilu pilpres. Program MBG sendiri adalah program yang digadang-gadangkan mampu untuk mengatasi masalah malnutrisi dan stunting baik pada anak-anak maupun ibu hamil serta untuk meningkatkan kwalitas SDM ( Sumber Daya Manusia) dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Namun apa mau dikata, jika fakta yang terjadi di lapangan jauh dari realita, bahkan malah menimbulkan problematika baru.
Sungguh ironi dan menyayat hati. Program yang digadang-gadangkan pemerintah mampu mensejahterakan rakyat ini malah membuat malapetaka, yakni keracunan yang berulang.
Keracunan yang terjadi di berbagai daerah ini menunjukkan adanya ketidakseriusan dan kelalaian yang dilakukan oleh negara, khususnya dalam menyiapkan SOP (Standard Operating procedure) dan mengawasi SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi).
Kesehatan bahkan nyawa siswa terancam usai menyantap MBG.
Jika ditelaah lebih dalam ternyata progam MBG ini juga bukan solusi untuk menyelesaikan persoalan-persoalan gizi pada anak sekolah dan ibu hamil, apalagi masalah stunting.
Jika berbicara gizi dan stunting, maka yang harus dilakukan adalah mengatasi bagaimana agar rakyat menyantap makan yang yang bergizi yang dapat memenuhi kebutuhan gizi dalam tubuh.
Dalam pandangan Islam, negara berperan sebagai raai’n (penggembala), ia bertanggung mewujudkan kesejahteraan rakyat. Salah satunya dengan memenuhi kebutuhan pokok bagi rakyatnya, baik langsung maupun tidak langsung dengan mekanisme yang sesuai dengan tuntunan syari’at Islam. Seorang raai’n kelak akan dimintai pertanggungjawab dihadapan Allah, hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh al-Bukhari ” setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya”.
Pemimpin (Khalifah) dalam kepemimpinan Islam akan menjamin kesehatan bagi masyarakat dengan disertai edukasi tentang gizi, dengan begitu maka krisis stunting akan dapat dicegah demikian dengan masalah gizi atau sebagainya.
Pemimpin (Khalifah) mampu menjamin kesejahteraan semua rakyatnya. Sumber pemasukan untuk menopang kebutuhan rakyat seperti kesehatan, maupun pendidikan didapat dari berbagai sumber seperti kharaz, fai, dan jizyah (pajak yang dipunggut dari rakyat non Islam) dan sumber Daya Alam milik umum (milkyah amah) yang dikelola oleh negara dengan sistem ekonomi Islam.
Khas negara akan disimpan di Baitul mall (rumah harta) untuk menunjang kesehatan, pendidikan serta kebutuhan pokok masyarakat.
Dengan demikian masalah stunting tidak akan terjadi jika kita menggunakan kepemimpinan Islam yang sesuai dengan apa yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw, dengan begitu masyarakat akan sejahtera.
Allahu a’lam bishawwab.**

















