Terkandung Janji Program MBG, Solusi Stunting Hanya Ilusi

Oleh; Winnarti Amd.AFM

Deteksijambi.com ~ Makanan bergizi gratis (MBG) adalah salah satu program unggulan dari kampanye presiden terpilih, yang tujuannya mencegah stunting. Terlihat fakta bahwa program ini belum dirancang secara matang, dimana pada penyelenggaraan nya banyak sekali terjadi masalah.

Mulai dari sasaran atau penerimaan manfaat, kita ketahui bersama stunting itu sendiri definisi nya adalah keadaan gagal tumbuh pada balita akibat terhambatnya penyerahan gizi di dalam tubuh. Jadi yang perlu makanan bergizi bukan usia sekolah saja tapi ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita, anak anak dan remaja.

 Sedangkan yang memerlukan makanan bergizi adalah setiap manusia. Jadi bisa dikatakan salah sasaran jika hanya anak usia sekolah itupun belum semua kebagian.

 Kemudian masalah makanan tidak berkualitas justru membahayakan. Mengutip dari Tirto.id – Pemerintah akan memperketat pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk menjaga kualitas makanan yang dibagikan pada anak sekolah. Hal tersebut, disampaikan oleh Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, usai adanya 40 siswa SDN Dukuh 03 Sukoharjo yang keracunan usai menyantap makanan menu MBG.

Belum lagi masalah pendanaan, mengutip dari Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Prabowo Subianto disebut “Gelisah” karena masih banyak anak yang belum mendapatkan Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengungkapkan butuh anggaran mencapai Rp 100 triliun untuk memberi makan gratis ke 82,9 juta penerima manfaat.

Jelaslah bahwa kebijakan MBG pada dasarnya tidak menyentuh akar masalah banyak nya generasi yang belum terpenuhi kebutuhan gizi dan meningkat nya masalah stunting. Sudah terkadung janji, alih alih menjadi solusi stunting hanya ilusi justru menjadi beban rakyat. Dan sejatinya bukan untuk kepentingan rakyat tapi proyek pencitraan dan seolah dijadikan alat kampanye untuk menarik suara rakyat.

 Tidak mengherankan bagaimana sistem sekuler kapitalis ini melahirkan cara berpikir pemimpin yang prakmatis tanpa memikirkan bagaimana dan dengan apa akan melaksanakan program nya, yang akhirnya menambah deretan beban rakyat. Melakukan segala cara agar keinginannya bisa terwujud tanpa peduli resiko dan akibatnya.

Persoalan hari ini adalah bagaimana kita memandang hanya dengan memberi makan siang gratis persoalan rakyat akan selesai, padaha kita ketahui bersama anggaran yang dibutuhkan untuk program ini sangat besar.

 Bagai api jauh dari panggangan. Inilah buah dari sistem sekuler kapitalis yang hanya berpihak pada kepentingan para penguasa.

Islam memandang persoalan pada aspek sistemiknya. Negara wajib menjamin pemenuhan kebutuhan primer (sandang, pangan dan papan) rakyat nya. Negara akan menjamin kebutuhan gizi semua orang dengan mekanisme sesuai syariat Islam sehingga tak akan terjadi stunting. 

Negara wajib menyediakan lapangan kerja yang luas, membangun kedaulatan pangan dibawah departemen kemasalahatan umum. Departemen ini akan menjaga kualitas pangan ditengah masyarakat. Negara juga akan melibatkan para pakar dalam membuat kebijakan terkait, baik dalam pemenuhan gizi, pencegahan stunting maupun dalam mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan. Negara memiliki sumber pemasukan yang beragam sehingga memiliki dana yang besar untuk mewujudkan semua kebijakannya dengan pengurus yang berkualitas terbaik.

Sudah seharusnya kita mengambil Islam sebagai aturan dalam hidup dan bernegara agar masyarakat sejahtera.##

Allahu a’lam bishawwab.