Oleh: Sarinah (Komunitas Literasi Islam Bungo)
Deteksijambi.com ~ Krisis kelistrikan skala besar atau blackout yang dipicu oleh rontoknya transmisi interkoneksi di wilayah Muaro Bungo, Provinsi Jambi sejak Jumat petang 22 Mei 2026, tidak hanya melumpuhkan roda ekonomi dan aktivitas publik tetapi juga menelan korban jiwa.
Dampak yang terjadi terhadap
Padamnya listrik di daerah Sumatera Utara dilaporkan telah menelan korban jiwa akibat penggunaan alat penerangan darurat yang tidak aman.
Tragedi memilukan ini menimpa empat orang pegawai toko aksesori ponsel di kawasan Indrapura, Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara.
Keempatnya mengalami keracunan gas emisi karbon dari mesin generator set ( genset) yang dinyalakan saat listrik padam massal menyelimuti ruko tempat mereka bekerja.
Dua dari mereka dinyatakan meninggal dunia, korban ditemukan tergeletak lemas dikamar akibat akumulasi gas beracun yang keluar dari asap mesin genset sedangkan dua lainnya harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit (Tribun Jambi.com, 24 mei 2026).
Tragedi memilukan juga mewarnai pemadaman listrik massal ( blackout) di Nagari Pandai Sekek, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat dua remaja dilaporkan meninggal dunia dan satu diantaranya masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit, ketiganya diduga tertidur dan mengalami keracunan akibat menghirup asap genset yang dinyalakan di dalam ruangan takmir masjid ( Liputan6SCTV).
Tidak hanya merenggut nyawa, ternyata adanya blackout juga melumpuhkan roda ekonomi dan aktivitas publik yang berdampak kerugian materil terhadap masyarakat.
Salah satu warga di Kota Aek Nabara Sumatera Utara, mengalami kerugian akibat ribuan ayam yang siap panen mati akibat kekurangan udara. Dihari yang sama salah satu warga di i Kota Batu Bara Sumatera Utara juga mengalami kerugian materil akibat blackout, ribuan ikan ternak miliknya mati akibat kekurangan oksigen.
Hal tersebut juga terjadi kepada salah satu warga pemilik usaha Frozen terbesar di Medan mengalami kerugian Ratusan juta akibat Makanan Frozennya membusuk ( Breaking news).
Blackout tidak hanya masalah sepele, ini masalah serius yang harusnya yang tidak berulang. Banyaknya masyarakat baik itu pedagang, pengusaha maupun masyarakat kecil yang dirugikan kerana adanya blackout, ini menimbulkan problem baru yang membuat masyarakat semakin dilema.
Para pengusaha UMKM yang banyak sekali mengalami kerugian akibat terjadinya Blackout melanda berbagai kalangan. Misalnya para pengusaha es krim yang bagkrut akibat pemadaman listrik dalam waktu panjang, pengusaha makanan Frozen, petenak ikan, peternak ayam dan lain sebagainya.
Blackout menyebabkan kerugian di berbagai daerah menyebabkan masalah baru, para pengusaha UMKM menjerit karna terancam kerugian jutaan rupiah. Hal ini menyebabkan melemahnya roda perekonomian masyarakat.
Selain ini blackout berkepanjangan menyebabkan menghilangnya nyawa akibat keracunan genset. Ini sungguh hal yang benar-benar di cegah agar blackout tak terulang lagi.
Jika ditelisik lebih dalam ini adalah hal sistemik yang harus diperhatikan keberadaanya.Tentulah hal ini bukan masalah individu semata, melainkan adanya kesalahan dalam struktural tata kelola pada sistem yang menaungi negara saat ini, yakni sistem sekuler kapitalisme.
Sistem yang tegak pada saat ini adalah sistem sekuler kapitalisme. Sistem Kapitalisme memiliki tolak ukur berorientasikan terhadap manfaat materi, sehingga dalam bentuk berbagai pelayanan yang diberikan kepada masyarakat tidak memiliki kualitas atau prioritas terhadap kemaslahatan masyarakat. Yang dikejar adalah keuntungan semata, wajar jika dalam penyelenggaraan tenaga listrik hanya pelayanan alangkadarnya, dengan kualitas sangat rendah. Dalam kapitalisme, rakyat dijadikan sebagai komoditas dan lahan bisnis bagi para pemegang kekuasaan maupun para pemilik modal, sehingga rakyatlah yang menjadi korban dan target elit kapitalis.
Prinsip ekonomi dalam sistem Kapitalisme adalah “modal sedikit dengan keuntungan sebanyak-banyaknya” dengan mindset yang seperti ini, maka pola pikir penyelenggara pengusaha listrik tidak terlalu memperhatikan pelayayan. Hal itu karena rasa amanah dan tanggung jawab tidak menyertainya.
Hal ini sangat berbeda dalam Islam. Dalam Islam perioritas negara adalah demi kemaslahatan publik. Sehingga keamanan dan keselamatan benar-benar menjadi prioritas utamanya, sehingga pelayanan publik dalam masyarakat memiliki kualitas yang maksimal dan tidak mengandung unsur dharar (berbahaya).
Hal ini karena pemimpin sebagai pengontrol dan pelayan umat benar-benar berperan sebagai junnah (perisai) dan raa’in (pemelihara) urusan rakyat. Para wakil rakyat maupun pemimpin sadar akan tanggung jawabnya sebagai pemelihara urusan umat sehingga menjadikan umat benar-benar sebagai prioritas dalam pelayanannya.
Selain itu kesadaran dalam diri pemimpin umat maupun dalam masyarakat individu terbentuk ketakwaan individu. Sehingga memungkinkan untuk berperan sebagaimana perannya. Kesadaran akan tanggung jawab itu berangkat dari kesadaran akan amanah yang kelak dipertanggung jawabkan dihadapan Allah kelak. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw yakini” setiap kamu adalah pemimpin, setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya” HR Al-Bukhari dan Muslim “
Hanya dengan islamlah masyarakat akan dilindungi dengan sebaik-baiknya dari rasa aman dan sejahtera.
Allahu a’lam bishawwab.**

















