Maulid Nabi, Saatnya Meneladani Metode Perjuangan Nabi

Oleh : Siri Nurzakiya, S.E (Tenaga Pendidik dan Aktivis Dakwah)

Deteksijambi.com ~ Anugerah terbesar Allah subhanahu wata’ala bagi kaum muslimin adalah diutusnya nabi Muhammad SAW. Beliau adalah suri teladan sempurna, penutup para nabi dan rasul, diutus kepada umat manusia menyampaikan risalah untuk menjadi petunjuk dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.  

Pada bulan Rabiul awal ini umat Islam dari berbagai penjuru dunia merayakan hari kelahirannya, yang kita kenal dengan sebutan maulid nabi Muhammad SAW. Sebagai bentuk syukur sekaligus rasa cinta yang teramat besar kepada Rasulullah. 

Ada yang merayakan dengan melantunkan shalawat, tablig akbar, pawai, berkumpul bersama, bersilaturahmi bahkan sampai mengadakan macam-macam perlombaan. Begitu semaraknya dan meriahnya perayaannya.

SindoNews.com- 23 Agustus 2026 Kementerian Agama (Kemenag) telah menyelenggarakan peringatan Maulid nabi Muhammad SAW 1448 H yang digelar melalui kegiatan Blissful mawlid 1448 H.. Dalam momen ini Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi mengatakan, “Rabiul awal adalah momentum untuk memperbanyak sholawat dan memperkuat kecintaan kepada Rasulullah, tetapi cinta tidak berhenti pada lantunan sholawat tapi cinta harus berlanjut menjadi keteladanan dengan menghadirkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan.” 

 Meneladani Rasulullah dalam Semua Aspek

Euforia kaum muslimin begitu terasa di hari peringatan maulid ini. Harusnya momentum ini menjadi kesempatan untuk refleksi diri. Di tengah kondisi banyaknya masalah hidup yang kian kompleks . Meneladani Rasulullah adalah solusi satu-satunya atas manusia terutama bagi kaum muslimin. 

Sayangnya momentum maulid hanya menjadi ajang seremonial belaka. Kalaupun ada ajakan untuk meneladani Rasulullah, terbatas mengajak umat untuk mencintai Rasul dengan meniru akhlak beliau saja, seperti bersikap jujur, sabar, syukur, lemah lembut. Atau hanya dengan meneladani beliau dari aspek ibadahnya saja, seperti shalat, puasa, haji, zakat dan ragam ibadah lainnya. Seolah risalah yang dibawa nabi hanya sekedar personal atau individunya saja. 

Sedangkan risalah yang lainnya yakni mengurusi umat/rakyat atau dengan kata lain tata cara kepemimpinan juga Rasulullah ajarkan. Seperti aspek politik (dalam dan luar negeri), aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan, industri, dan militer. Saat ini kita dapati semua aspek tersebut, umat Islam dalam posisi lemah dan penuh kerusakan. Aspek inilah yang luput dari perhatian kaum muslimin hari ini. 

Dibutuhkan Perubahan Hakiki

Ada sebagian umat yang akhirnya menyadari hal ini dan muncul upaya perubahan yang dimotori kalangan intelektual, termasuk mahasiswa. Namun sayang, perubahan yang didengungkan masih seputar perubahan orang (pemimpin), padahal Indonesia sudah mengalami pergantian pemimpin berkali-kali dan tidak terjadi perubahan hakiki. Negeri ini tetap diliputi kerusakan, bahkan makin parah. 

Artinya tidak cukup jika yang diubah adalah pemimpinnya, tapi harusnya mengubah akar masalahnya. Kerusakan yang mendasari lahirnya banyak kerusakan di muka bumi termasuk di neger-negeri kaum muslimin, yakni diterapkannya aturan kapitalis-sekular yang melahirkan sistem demokrasi kapitalis hingga membuat kaum muslimin tidak mau mengambil syariat Allah secara menyeluruh untuk mengatur kehidupannya.

Rasulullah diutus dengan membawa aturan sempurna untuk menyolusi segala permasalahan dalam kehidupan. Tidak hanya untuk kaum muslimin tapi juga untuk orang yang bukan Islam. Tidak hanya untuk manusia tetapi juga untuk makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan. Bahkan Rasul diutus untuk menjadi Rahmat bagi semesta alam. 

Maka sudah menjadi suatu kewajiban bagi kaum muslimin menjadikan Rasulullah sebagai suri teladannya. Mengikuti apa yang diperintahkan dan menjauhi segala apa yang dilarang. Juga meneladaninya dalam segala aspek, baik itu aspek personalnya atau akhlaknya, di dalam bermasyarakat, bernegara bahkan sampai mengurusi dunia. Rasulullah telah mencontohkan semua aspek tersebut melalui dakwah dan jihad. 

Kenapa kaum muslimin tak mau meneladani perjuangan Rasul dengan mengikuti seluruh apa yang beliau bawa dan menerapkannya ? bukannya cinta itu membutuhkan bukti ? dan bukti cinta itu ya dengan ittiba’ (mengikuti).

 Ittiba’ Rasulullah Tidak Cukup Hanya Sebatas Akhlak

Ittiba’ (mengikuti) Rasulullah adalah ekspresi kewajiban bagi kaum muslimin. Seperti firman Allah “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah” (TQS. Al-Hasyr : 7).

Maulid tereduksi menjadi ekspresi kecintaan tanpa konsekuensi keimanan. Padahal cinta kepada Rasulullah mengharuskan kaum muslimin terikat kepada risalah dan perjuangan yang beliau bawa atau dengan kata lain terikat kepada seluruh syariat Allah secara menyeluruh. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam islam secara Kaaffah (meneyeluruh), dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaiton ! sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu” ( TQS. Al-Baqarah : 208 ).

Keterikatan kepada hukum Syara’ merupakan bukti keimanan dan kecintaan kita kepada Rasul, seperti firman Allah Ta’ala, “ Demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga bertahkim kepadamu (Nabi Muhammad) dalam perkara yang diperselisihkan di antara mereka. Kemudian, tidak ada keberatan dalam diri mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka terima dengan sepenuhnya” ( TQS. An-Nisa : 65 ).  

Dengan demikian, wujud ittiba’ kepada Rasul bukan hanya meniru akhlak (personalnya) saja. Melainkan mengikuti seluruh syariat Islam yang beliau bawa.

 Islam Mengatur Segala Lini Kehidupan

Islam merupakan din yang mengatur segala aspek kehidupan manusia. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan, “Islam didefinisikan sebagai agama yang diturunkan Allah Swt. kepada junjungan kita Nabi Muhammad untuk mengatur hubungan manusia dengan penciptanya, dirinya, dan dengan sesamanya. Hubungan manusia dengan penciptanya mencakup urusan akidah dan ibadah. Hubungan manusia dengan dirinya mencakup akhlak, makanan/minuman, dan pakaian. Sedangkan hubungan manusia dengan sesamanya mencakup muamalah dan uqubat/sanksi.” (Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, Nizham al-Islam, Bab “Nizham al-Islam”).

Akhlak merupakan bagian dari syariat Islam, yakni hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Maka ia terikat dengan perintah dan larangan Allah. Tetapi Ittiba’ Rasul bermakna mengikuti syariat Islam secara total (Kaffah), bukan hanya pada aspek akhlak saja. Membatasi ittiba’ Rasul hanya pada aspek akhlak justru merupakan sebuah kekeliruan karena bertentangan dengan nas.

Kaum muslimin kehilangan kesadaran bahwa penghambaan kepada Allah masih berlangsung secara sistemis. Lihat saja bagaimana sistem demokrasi yang dipakai dalam mengurusi urusan pemerintahan, padahal sistem itu adalah sistem buatan manusia, tak sebanding dengan sistem pemerintahan Islam yang dibawa oleh Rasulullah yang bersumber dari Sang Pencipta langit dan bumi. 

Belum lagi sistem kapitalis sekuler yang bercokol di dalam tubuh kaum muslimin, menjadikan mereka mengambil sebagian dan menolak sebagian dari syariat Allah. Muncullah paham liberal, Akhirnya manusia bebas melakukan apa saja tanpa peduli dengan aturan agama dan menjadikan dunia serta hawa nafsunya sebagai orientasi hidupnya. 

Kaum Muslimin harus sadar, kerusakan yang terjadi hari ini diakibatkan oleh abainya mereka terhadap syariat Allah secara menyeluruh dan pembiaran mereka pada sistem rusak yang bercokol di negeri ini. Sehingga wajar kemaksiatan tetap merajalela, kezaliman terjadi di mana-mana, korupsi menggerogoti negeri, kebijakan penguasa mencekik rakyat, riba serta zina dinormalisasi, alam dieksploitasi hingga rusak dan berujung bencana, belum lagi nyawa manusia seolah-olah tidak ada harganya. Apakah seperti ini kehidupan yang dicontohkan Nabi ? Tentu tidak

 Metode Dakwah Perjuangan Rasulullah

Allah Ta’ala memerintahkan umat islam untuk menjadikan Rasulullah sebagai uswah hasanah (teladan yang baik), sebagaimana firman-Nya, “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari kiamat. Serta yang banyak mengingat Allah” ( TQS. Al-Ahzab : 21 ).

Dalam Kitab Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Ayat ini merupakan dalil pokok yang paling besar dalam meneladani Rasulullah dalam semua perkataan, perbuatan, dan berbagai hal lainnya.” Dengan demikian wujud dari ittiba’ (mengikuti) Rasulullah adalah meneladani Rasulullah dengan menerapkan Islam secara kaffah (menyeluruh).

Penerapan sistem kapitalis-sekuler di negeri-negeri muslim mewajibkan umat Islam untuk memperjuangkan penerapan syariat Islam secara kaffah ini melalui kepemimpinan Islam sebagaimana dakwah yang dicontohkan Rasulullah di Makkah dan Madinah. Namun, Mustahil Islam diterapkan secara Kaffah (menyeluruh), jika kaum muslimin ittiba’ Rasulullah hanya dalam perkara ibadah ritual atau akhlaknya semata, tanpa adanya keterikatan kaum muslimin pada syariat Allah. 

Juga mustahil Islam akan menyolusi permasalahan umat jika Nabi Muhammad diingat hanya sekedar merayakan maulid atau menjadi ajang seremonial belaka, tanpa memahami bagaimana metode perjuangan Rasulullah. Allah Ta ’ala berfirman, “Katakanlah (Nabi Muhammad), “jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.” ( TQS. Ali ‘Imran : 31 ). 

Rasulullah telah memberikan tata cara perubahan dari sistem rusak menuju sistem yang sahih (Islam). Beliau telah mengubah masyarakat Arab dari sistem jahiliah menjadi sistem Islam dengan aktivitas dakwah. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meneladani metode dakwah Rasulullah agar kita memahami bagaimana perjuangan Rasulullah mewujudkan perubahan yang hakiki di mana syariat Allah tegak di atas muka bumi dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.**

 

Wallahualam bissawab.