Gen Z Terhimpit: Antara Tekanan Ekonomi, Hedonisme dan Tujuan Hidup

Oleh: Sarinah (Komunitas Literasi Islam Bungo)

 


Deteksijambi.com ~ Gen Z adalah sebutan untuk generasi muda pada zaman ini. Gaya hidup Gen Z saat ini telah terpapar oleh hedonisme dan gaya hidup ala Barat, sehingga kini kita dapati kebiasaan hidup boros, suka hura-hura, berbelanja sudah menjadi hal yang lazim pada Gen Z saat ini. Konten-konten media sosial masif, yang turut menyebarkan hedonisme makin meluas saat ini, sehingga arusnya tak dapat dibendung lagi. 

Bagi Gen Z, membeli sesuatu setelah menerima gaji untuk membayar sewa tempat tinggal, tagihan listrik, merupakan cara sederhana untuk memberi penghargan kepada diri sendiri setelah bekerja selama sebulan penuh. Setelah membayar sewa tempat tinggal, tagihan listrik dan kebutuhan bulanan lainnya terpenuhi, ada yang membeli lipstik, parfum, memesan kopi atau matcha, memperpanjang langganan layanan musik digital, mencoba restoran yang sedang ramai diperbincangkan, menonton film di bioskop, sampai berburu tiket konser. Hal tersebut dikenal dengan istilah self-reward dan manjadi tren masa kini.

Contohnya, Bella (28 tahun) warga jakarta, sebelum membeli peralatan kosmetik, menikmati makanan favoritnya ia lebih dulu menyelesaikan satu kewajiban yang menurutnya tidak bisa ditunda lgi, yaitu membayar sewa tempat tinggal. Menurutnya membayar sewa hunian menjadi kebutuhan primer yang harus terpenuhi. Setelah urusan sewa selesai, ia menyisihkan sebagian penghasilannya sebagai tabungan dan dana darurat.

Sementara itu, Bayu (27 tahun) memiliki cara berbeda menikmati hasil kerjanya. Setiap menerima gaji, Bayu langsung mengalokasikan pendapatnya untuk membayar kebutuhan primer, mulai dari sewa rumah, hingga tagihan listrik. Setelah itu, sebagian penghasilannya dipindahkan ke tabungan.

Bayu tetap menyisihkan uang untuk berlangganan Spotify, menonton bioskop, mencoba tempat makan baru yang ditemuinya di media sosial. Menurutnya pengeluaran tersebut bukan sekedar memenjakan diri, melainkan cara menikmati hasil kerja sekaligus menjaga kesehatan mental. Alasannya melakukan self-reward adalah mengurangi stres setelah bekerja.

Bayu mengaku tetap dihantui kecemasan mengenai masa depan. Harga rumah yang terus naik membuatnya merasa tujuan memiliki hunian sendri semakin sulit dicapai. Bayu mengaku media sosial ikut mempengaruhi kebiasaan konsumsi generasi. Konten tentang mengenai tempat makan baru, barang-barang menarik, hingga berbagai rekomendasi aktivitas kerap membuatnya penasaran untuk mencoba. Namun ia tidak sepakat jika kebiasaan self-reward selalu dipandang sebagai perilaku boros (KOMPAS.com,12 Agustus 2026)

Beginilah potret Gen Z saat ini. Yang memanjakan diri dan mengklaim untuk menghilangkan stres dengan mencari kesenangan duniawi. Kekhawatiran akan ketidakpastian hidup, pastinya mengusik hati dan menghantui Gen Z saat ini.

 Bagaimana tidak, pasalnya tekanan hidup dan kebutuhan akan ekonomi makin meningkat seiring berjalannya waktu. Di sisi lain, gaji yang didapat para pekerja stagnan tnpa ada kenaikan. Ini jelas ironi yang sangat menyayat hati.

Sistem Kapitalisme yang tegak saat ini, menciptakan tekanan ekonomi yang menghimpit Gen Z dimana biaya hidup terus naik sementara gaji stagnan. Sementara itu, negara sebagai penjamin kebutuhan rakyatnya terkesan lepas tangan dari kewajibannya dalam menjamin kebutuhan dasar, sehingga generasi muda dibiarkan berjuang sendiri.

Tekanan ekonomi diperparah oleh gaya hidup Sekuler -Liberal yang menjadikan self-reward, healing dan konsumsi hedonis sebagai solusi pelarian. Media sosial juga terus mencekoki generasi dengan tren populer yang memicu FOMO dan budaya balanja implusif.

Media sosial menjadi salah satu faktor yang memperkuat kebiasaan self-reward. Paparan terhadap kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses atau lebih mapan, membuat banyak anak muda terdorong membandingkan dirinya dengan orang lain (social comparison) . Akibatnya keputusan membeli satu barang berharga tidak lagi didasarkan pada kebutuhan, melainkan keinginan agar merasa setara atau diterima oleh lingkungan. 

Di balik itu, ada krisis yang lebih dalam, yakni Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Sehingga kebahagiaan diukur hanya dari kenikmatan materi sesaat, bukan dari ridha Allah dan kemuliaan Islam.

Masalah pengelolaan uang pada Ggen Z mengenai harga hunian yang terus naik, ketidak pastian ekonomi, tuntutan pekerjaan, hingga derasnya arus media sosial menjadi realitas yang membentuk cara mereka memaknai uang, membuat keuangan sebagian besar Gen Z makin sulit. Present bias, yaitu kecenderungan lebih mengehargai kesenangan yang bisa dirasakan saat ini, dibandingkan manfaat yang diperoleh bertahun-tahun kemudian banyak menjangkit di tengah-tengah Gen Z saat ini.

Hal ini sangat berbeda dengan pandangan Islam.

Dalam pandangan Daulah Khilafah (kepemimpinan Islam). Negara khilafah menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan SDA (Sumber Daya Alam) dan memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki sehingga rakyat termasuk GEN Z tidak akan berjuang sendiri.

Islam menutup pintu gaya hidup hedonis dan melindungi generasi dari paparan konten merusak seperti sekulerisme – kapitalisme dan turunannya. Media dalam khilafah akan diarahkan untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan rakyat. Adanya penyaringan terhadap konten-konten yang boleh beredar di tengah masyarakat, membuat masyarakat tidak terpapar dengan gaya hidup ala Barat.

Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah az-zariat ayat 56 yang artinya ” Tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Nya”.

Dalam Islam tujuan utama diciptakannya manusia adalah agar manusia hanya menyembah Allah, senantiasa taat kepada-Nya, serta menggunakan hukum-Nya dalam kehidupan.

Dalam Islam aqidah adalah pondasi yang mendasar yang harus ada dalam diri manusia. Kesadaran bahwasanya manusia diciptakan oleh Allah SWT dan harus tunduk terhadap perintah dan larangan-Nya, serta hidup hanya untuk mencari ridha-Nya harus senantiasa ada para diri individu muslim.

Dengan akidah yang kokoh inilah generasimuda saat ini akan memiliki visi sebagai pembangun peradaban Islam yang mulia, dan tidak mengikuti arus yang salah. Sungguh hanya dengan kembali kepada aturan Allah lah manusia akan hidup mulia dan sejahtera.**

 Allahu a’lam bishawwab.