“Buku Gratis Bukanlah Solusi Akar Masalah Pendidikan”

Oleh: Devi Ramaddani (Aktivis Muslimah)

Deteksijambi.com ~ SAMARINDA – Komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda dalam menjamin pendidikan yang lebih adil dan bebas biaya kembali ditegaskan. Walikota Samarinda, Andi Harun, memastikan bahwa pengadaan buku ajar dan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) secara gratis akan diberlakukan secara menyeluruh untuk seluruh siswa di sekolah negeri pada tahun ajaran baru 2025/2026.

Walikota menjelaskan bahwa fokus kebijakan buku gratis Pemkot saat ini difokuskan sepenuhnya pada sekolah negeri. Hal ini didasarkan pada pertimbangan yuridis, administratif, dan kebutuhan lapangan, di mana sebagian besar keluhan masyarakat selama ini datang dari institusi pendidikan negeri.(Tribunnews.com, 19/06/2025)

Namun dalam sistem pendidikan kapitalis seperti sekarang, sulit menerapkan pendidikan gratis secara utuh. Kalaupun ada sekolah gratis, sering kali kualitasnya serba minimalis. Kebijakan buku gratis ini muncul sebagai respons atas protes dan keluhan para emak-emak beberapa waktu lalu. Tapi di lapangan, belum diketahui apakah benar-benar gratis seluruhnya, atau masih ada hal lain yang tetap dibebankan biaya.

Lebih lagi, hanya sekolah negeri yang mendapat jaminan ini. Sekolah swasta tidak termasuk, dengan alasan tidak adanya kemampuan mencukupi pembiayaan. Ini menunjukkan bahwa program buku gratis hanyalah secuil dari banyak problem pendidikan. Masih ada hal-hal mendasar yang belum diselesaikan, salah satunya soal kesejahteraan guru.

Pendidikan dalam sistem kapitalis memang meniscayakan mahalnya biaya sekolah. Pendidikan menjadi sulit diakses oleh seluruh kalangan. Padahal, jika sumber pendapatan negara seperti Sumber Daya Alam dan Energi (SDAE) dikelola dengan benar, seharusnya cukup untuk membiayai pendidikan secara gratis dan menyeluruh.

Islam menawarkan solusi yang berbeda. Dalam Islam, pendidikan itu gratis dan berkualitas. Jaminan pendidikan tidak hanya pada sarana dan prasarana, tetapi juga pada kualitas output yang dihasilkan dari sistem pendidikan itu sendiri.

Sejarah telah memberikan gambaran nyata bagaimana pendidikan dalam Islam di masa kejayaannya bisa berjalan dengan baik. Salah satunya Baitul Hikmah, yakni lembaga keilmuan paling terkenal dalam sejarah kejayaan Islam. Baitul Hikmah didirikan pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid dan kemudian dikembangkan oleh putranya, Khalifah Al-Makmun pada masa Khilafah Abbasiyah di Baghdad pada abad ke-8. Saat itu Baitul Hikmah adalah pusat penerjemahan, penelitian, dan pendidikan yang sangat dibutuhkan dunia.

Perpustakaan Baitul Hikmah memuat ribuan manuskrip dan buku yang meliputi berbagai disiplin ilmu, termasuk matematika, astronomi, kedokteran, filsafat, dan ilmu alam. Selain perpustakaan, Baitul Hikmah pun menjadi pusat penerjemahan buku-buku karya orang-orang hebat dan sekaligus menjadi pusat penelitian dan inovasi.

Sehingga melahirkan ilmuwan-ilmuwan seperti Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina (Avicenna) bekerja dan menulis banyak karya penting di sini. Al-Khawarizmi, seorang matematikawan muslim terkenal, menulis buku-buku yang menjadi dasar bagi perkembangan aljabar dan algoritma. Konsep aljabarnya menjadi dasar ilmu komputer modern saat ini. 

Begitulah gambaran bagaimana pendidikan dalam Sistem Islam negara benar-benar menjamin kesediaan sarana, prasarana dan fasilitasnya. Sebab pendidikan kebutuhan dasar yang menjadi tanggung jawab negara. Seperti hadist Rasulullah saw, Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya, “ (HR Bukhari). 

Dari hadist diatas menjelaskan bahwa seorang pemimpin tidak abai terhadap kebutuhan rakyatnya. Pendidikan gratis dan berkualitas benar-benar terwujud ketika Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Negara hadir sebagai penanggung jawab penuh atas pendidikan. 

Dengan demikian, persoalan pendidikan tidak cukup diselesaikan dengan kebijakan buku gratis. Masalah akan terus berulang jika sistem kapitalis tetap dipertahankan. Hanya dengan menerapkan Islam secara menyeluruh, pendidikan gratis, adil, dan berkualitas bisa benar-benar terwujud bagi seluruh rakyat.##

Wallahu a’lam bish shawwab

You cannot copy content of this page