ISTILAH PERDAMAIAN (PEACE) TIDAK SELALU MENGHADIRKAN KEADILAN

Oleh: Siti nurkotimah (aktivis dakwah Islam kaffah).

Deteksijambi.com ~ Mengutip dari sumber New York Times, pada Selasa 7 April bahwa Amerika Serikat menginginkan Hamas menyerahkan hampir semua persenjataannya serta menyerahkan peta jaringan terowongan bawah tanah di jalur Gaza. Bahkan dewan perdamaian Board Of Peace (BOP) mendesak Hamas agar segera menyelesaikan rancangan kesepakatan demiliterisasi jalur Gaza paling lambat akhir pekan ini. 

Dan perwakilan dari kedua pihak akan bertemu di Mesir pada Selasa ini, dalam rangka merampungkan kesepakatan demiliterisasi.Setelah itu dilakukan mengerahkan pasukan stabilisasi internasional pendirian struktur pemerintahan baru untuk Gaza dibawah BOP yang dipimpin oleh Trump.

Namun Hamas menyampaikan ketidaksepakatannya dan Hamas menegaskan bahwa gerakan perlawanan tidak akan menerima pelucutan senjata sebelum tahap pertama yakni penghentian serangan dan pelanggaran dijalankan Penuh, pasalnya meski gencatan senjata telah disepakati zionis terus melakukan penyerangan hingga menewaskan warga Gaza disetiap harinya. (New York Times,07/04/26).

Apa yang hari ini disebut sebagai BOP atau dewan perdamaian pimpinan Trump, sesungguhnya bukanlah inisiatif perdamaian. Kaum kafir seperti Amerika Serikat maupun entitas zionis tidak pernah berhenti merancang rencana kejahatan terhadap Islam dan kaum muslim, dan setiap inisiatif yang mereka labeli dengan perdamaian stabilitas atau kemanusiaan selalu menyimpan agenda penjajahan dibaliknya.

Tiga tuntutan yang diajukan Amerika Serikat kepada Hamas yaitu,

1. Penyerahan hampir seluruh persenjataan. Jika kita analisa lebih mendalam sebenarnya Amerika Serikat menginginkan Hamas untuk tidak kembali berkuasa dan melakukan aktifitas perlawanan atau yang disebut Hamas sebagai jihad di Gaza, karena jika Hamas menguasai Gaza pasca gencatan senjata ini akan menjadi hambatan mutlak bagi keamanan Israel.

2. Penyerahan peta terowongan Gaza ke Amerika Serikat jika kita analisa lebih mendalam memiliki kepentingan geopolitik dan militer yang signifikan. Tentunya jika benar-benar terjadi ada potensi bahaya dan konsekuensinya seperti, peta yang detail memudahkan pasukan Israel untuk memetakan dan menghancurkan jaringan trowongan, dan penghancuran trowongan beresiko tinggi untuk keamanan para sandera dan warga sipil yang ditahan di bawah tanah. Karena penyerahan peta terowongan berarti sama dengan membuka seluruh rahasia pertahanan kepada musuh yang masih aktif membunuh warga Gaza.

3. Dan penempatan pasukan stabilisasi internasional (ISF) dan struktur pemerintahan baru untuk Gaza di bawah BOP membawa resiko tinggi diantaranya potensi kontak senjata dengan pejuang Palestina, dan resiko keterlibatan dalam konflik yang lebih luas Karena misi ini juga berpotensi mengadu domba pasukan Indonesia dengan pejuang lokal, terutama terkait tugas pelucutan senjata kelompok perlawanan. Karena setelah dianalisa lebih mendalam sebenarnya, penempatan pasukan stabilisasi internasional ini hanya mengantikan penjajah zionis dengan penjajah multinasional yang lebih rapi dan lebih sulit dilawan secara naratif karena ia datang dengan seragam perdamaian dan bukan perang.

Apabila dibaca secara utuh ke 3 tuntutan ini adalah upaya Amerika Serikat untuk melumpuhkan secara total atas seluruh infrastruktur perlawanan Islam di Gaza, lebih dari itu tujuan dari pelucutan senjata juga merupakan upaya untuk mengubah cara pandang umat agar mengganggap perlawanan sebagai ancaman dan penyerahan senjata adalah sebagai jalan damai.

Dalam perspektif Islam, hukum membela diri dari serangan musuh yang nyata-nyata menduduki negri kaum muslimin adalah fardhu ain, kewajiban individu yang tidak gugur kecuali dengan kematian atau ketidakmampuan total.

Allah SWT telah berfirman: “Siapa saja yang menyerang kalian seranglah dia, seimbang dengan serangannya terhadap kalian.(TQS Al-Baqarah [2]:194).

Allah SWT juga memerintahkan untuk mengusir siapapun yang telah mengusir kaum muslim. (TQS Al-Baqarah [2]:191).

Oleh karena itu jihad menjadi fardhu ain atas setiap muslim di wilayah tersebut kemudian atas wilayah-wilayah yang berdekatan hingga seluruh umat muslim. Ini adalah hukum Allah SWT yang tidak bisa dinegosiasikan oleh siapapun termasuk oleh tekanan diplomatik negara adidaya sekalipun.

Allah SWT berfirman:

Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir sebagai wali atau pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin.(QS An-nisa:144).

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah SWT melarang umat Islam memberikan loyalitas, dukungan, atau menjadikan non-muslim sebagai pemimpin, terutama dalam urusan yang mengabaikan kepentingan kaum mukmin, dan juga peringatan agar umat Islam tidak memihak kaum kafir yang memusuhi Islam, melainkan mengutamakan persaudaraan sesama muslim.

Namun faktanya ketika penduduk muslim Gaza melakukan perlawanan dan belum mencapai keberhasilannya mengusir zionis dari tanah palestina, penguasa dan tentara-tentara kaum muslimin yang ada disekitarnya tidak memberikan bantuan.

Semua ini menunjukkan penghianatan terhadap saudaranya sesama muslim dan sekat nasionalisme yang telah memecah belah mereka. Sehingga tidak terbantahkan bahwa sebab utama dari seluruh penderitaan kaum muslim di seluruh penjuru dunia adalah ketiadaan daulah islamiyah yang menyatukan mereka dibawah satu kepemimpinan, satu bendera, dan satu sistem hukum.

Karena seruan perdamaian yang diinisiasi Trump bertentangan dengan hukum syari’at, sehingga bisa menyebabkan agresi militer kaum zionis kian merajalela. Namun demikian, menyerahkan perlawanan terhadap zionis Yahudi hanya pada warga Gaza juga suatu kemungkaran.

Sesungguhnya kekalahan kaum zionis telah tampak didepan mata, tentara zionis yang kalap karena tidak mampu mengalahkan perlawanan Hamas, melampiaskan serangan mereka dengan menembaki warga sipil, perempuan, lansia, hingga anak-anak. Kalaupun saat ini mereka masih bertahan, itu karna support dari negara-negara barat yang terus mempertahankan eksistensi negara Yahudi di kawasan timur tengah, mereka terus menggelontorkan bantuan keuangan dan militer. 

Nama dan kemasannya terdengar indah ” peach” perdamaian. Akan Tetapi sejarah mengajari kita bahwa istilah perdamaian tidak selalu menghadirkan keadilan, banyak penjajahan justru dibungkus dengan istilah perdamaian stabilisasi dan rekonstruksi. Inilah yang sesungguhnya juga terjadi di Palestina.

Ironi terbesar bagi dunia Islam kaum penjajah tampil sebagai “juru damai” bagi umat Islam, padahal

Allah SWT telah mengingatkan:

Allah sekali-kali tidak akan pernah memberikan jalan bagi kafir untuk menguasai kaum mukmin (TQS An-nisa [4]:141).

Palestina butuh pembebasan.

Penjajahan dimanapun termasuk di Palestina sesungguhnya tidak akan pernah berakhir di meja perundingan yang timpang, Palestina yang lama terjajah sama sekali tidak akan di bebaskan oleh dewan-dewan internasional buatan kafir penjajah. Solusi untuk membebaskan Gaza dan Palestina bukanlah dengan negosiasi, solusi satu-satunya adalah dengan mengusir zionis Yahudi dari Palestina dan jihad.

Cukup dengan mengerahkan ratusan ribu tentara muslim dari negara-negara arab saja, tentu sangat mudah berjihad untuk menumpas sekaligus mengusir zionis Yahudi dari bumi Palestina. Sayangnya saat ini, umat tidak memiliki institusi global sebagai pemersatu mereka itulah khilafah.

Pada titik inilah umat harus menyadari bahwa mereka membutuhkan eksistensi negara khilafah untuk melindungi palestina dan menyingkirkan entitas yahudi dari tiap jengkal tanah palestina.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: 

“Imam (khilafah) adalah perisai (pelindung)(HR al-Bukhari dan Muslim).

Khilafah akan membuat perhitungan dengan entitas yahudi dan negara-negara Barat sebagai sponsornya. Bukan saja mengusir kaum zionis Yahudi, khilafah pun akan menghilangkan semua fasilitas negara-negara penjajah di wilayah kaum muslim seperti pangkalan militer asing.

Hanya negara khilafah yang akan sanggup memobilisasi kekuatan umat untuk mengusir entitas yahudi. Negara khilafah akan menghapus belenggu nasionalisme yang telah merantai umat dari memberikan pertolongan terhadap saudara mereka yang teraniaya seperti di Gaza, Palestina.

Oleh karena itu sudah semestinya negeri-negeri Muslim bersatu di bawah komando seorang Khalifah dalam naungan khilafah Islam yang menyerukan jihad fisabilillah melawan penjajahan zionis Yahudi yang didukung oleh negara AS.**

Wallahu a’lam bi Ash-shawwaab.