Penulis Oleh : Andre Hariyanto, Mantan Kepala Divisi Pendidikan & Pelatihan Pro Jurnalismedia Siber
MALANG ~ Deteksijambi.com — Di tengah masifnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan AI (Artificial Inteligence), kemampuan menulis secara mandiri justru menjadi kompetensi yang makin dicari. Para pendidik dan praktisi media mengingatkan bahwa pelajar dan jurnalis pemula tidak boleh kehilangan kemampuan dasar merangkai fakta melalui proses peliputan langsung.
Praktisi media lokal, Master Trainer AR Learning Center dan Penulis Buku Mutiara Hikmah, Andre Hariyanto menilai, ketergantungan penuh pada AI sering kali membuat tulisan terasa datar, kehilangan empati, dan rentan terhadap kesalahan informasi (halusinasi data). Padahal, nilai utama dari sebuah karya jurnalistik terletak pada kepekaan manusia saat berada di lapangan.
“AI bisa membantu merapikan kalimat, tapi ia tidak punya nurani untuk mendengarkan keluh kesah narasumber atau melihat ekspresi di lapangan,” tulis Andre Hariyanto, seorang editor media daring, saat menyampaikan literasi digital melalui pesan media WhatsApp. Senin, (19/10/2026).
Langkah praktis untuk menulis berita yang tajam secara mandiri, meliputi tiga langkah utama yang harus dilatih setiap hari jurnalis pemula :
1). Observasi langsung (mendatangi lokasi kejadian atau catat peristiwa dengan mata kepala sendiri).
2). Wawancara mendalam (Ajukan pertanyaan terbuka kepada narasumber yang kredibel).
3). Verifikasi data (silang periksa informasi dari minimal dua sumber berbeda sebelum ditekan tombol terbit)
Dengan melatih kebiasaan menulis secara organik, pelajar tidak hanya menghasilkan tulisan yang akurat dan taat etika, tetapi juga mengasah nalar kritis yang tidak bisa diciptakan oleh mesin.
Menjadi seorang jurnalis (wartawan) tidak cukup hanya dengan keterampilan menulis saja, media dituntut untuk selalu profesional dan independen dalam melaksanakan kegiatan jurnalistik di lapangan. Karya terbaik lahir dari kemampuan jurnalis dalam memahami setiap isu yang akan diangkat menjadi sebuah informasi, edukasi, dan literasi bagi pembaca.
Kompetensi tidak semata-mata dibuktikan dengan sertifikat, gelar, atau pengakuan. Tetapi dinilai dari kemampuan seorang jurnalis menghasilkan karya yang berkualitas, memahami apa yang ditulis, serta menjelaskan setiap detail proses karya jurnalistik yang disajikan.
Selain berfikir kritis dan berwawasan luas, seorang jurnalis (wartawan) yang profesional akan menerima kritik sebagai bahan evaluasi dalam meningkatkan kemampuan jurnalisme.
Karya terbaik bukan sekadar tulisan yang terlihat sempurna, tetapi tentang pemikiran yang matang, jujur serta dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Keterampilan merangkai fakta dan melakukan wawancara langsung dinilai jauh lebih penting untuk membentuk daya kritis generasi muda.**














