Oleh: Isheriwati S.pdi
Deteksijambi.com ~ Perayaan maulid nabi SAW masih terasa dimana- mana, gema shalawat, tabligh akbar dan pengajian- pengajian masih diwarnai dengan pembahasan ittiba’ kepada Nabi SAW. Meneladani akhlak nabi, menjadikan nabi sebagai suri tauladan adalah impian setiap muslim.
Terlepas dari perbedaan tentang boleh dan tidak boleh merayakan maulid adalah hal yang wajar karena masing-masing punya dalil kita semua yakin bahwa kaum muslimin yang tidak merayakan maulid mereka juga mencintai nabi, dan lebih lagi kaum muslimin yang merayakan maulid mereka semua juga mencintai nabi SAW.
Namun, benarkah cinta kita tulus kepada baginda nabi SAW?? Ataukah cinta kita hanya sebatas ekspresi memperingati hari kelahirannya??
Cinta kepada Nabi SAW harus kita wujudkan dalam diri kita, bahkan jika kita belum mencintainya pun kita harus memupuk dan menumbuhkan rasa cinta itu, cinta menuntut pengorbanan, cinta menuntut keterikatan, keterikatan dengan risalah yang beliau SAW bawa, keterikatan dengan perjuangan yang beliau ajarkan. Perjuangan yang tidak kenal lelah walaupun kaki dan pelipis Beliau berdarah- darah, dilemari batu, dilempari kotoran unta, dicaci, dihina, difitnah, disebut tukang sihir, bahkan hingga mau dibunuh tetapi Rasulullah SAW tetap tegar dalam perjuangan itu.
Perjuangan yang tidak hanya mengajak manusia memeluk islam tetapi lebih jauh lagi perjuangan yang sampai manusia hidup diatur oleh islam, islam sebagai jalan hidup, islam mengatur hidupnya sehingga tidak ada lagi hukum jahiliah yang ada hanyalah hukum islam yang mampu menjadikan manusia benar-benar hanya menghambakan dirinya kepada Allah semata bukan kepada dunia, dan hawa nafsu nya.
Hari ini umat muslim mengatakan mencintai Nabi, namun faktanya umat muslim mengambil sistem kehidupan yang tidak pernah dicontohkan nabi. Demokrasi menjadi sistem bernegaranya, liberalisme menjadi landasan kebebasannya.
Penerapan sistem kapitalisme- sekularisme dinegeri -negeri muslim saat ini adalah bukti pengkhianatan terhadap cinta nabi.
Rasulullah SAW hanya menerapkan islam saja diseluruh aspek kehidupannya bukan demokrasi, liberalisasi dan kapitalisme.
Mencintai nabi bearti menghadirkan nabi dalam aturan kehidupan kita, memperjuangkan islam kaffah dan menerapkan syariat Islam secara nyata melalui kepemimpinan islam ( Khilafah) begitulah dakwah yang benar-benar dicontohkan Rasulullah SAW.
Kehidupan islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam ( QS. Al- Anbiya : 107 )
وَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَـٰلَمِي
Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
Hikmah Maulid adalah Meneladani perjuangan Rasulullah SAW dalam menerapkan islam kaffah, ekspresi kecintaan adalah konsekuensi idiologis mengupayakan kehidupan islam tegak kembali, memperjuangkan syariat Nabi, menerapkan islam kaffah dalam kepemimpinan Khilafah. Sehingga islam sebagai rahmat akan benar-benar terwujud itulah esensi dari mencintai nabi dimasa kini.**
Wallahualam bissawab














