JAMBI  

Kasus ISPA di Jambi Meningkat, Islam Solusi Tepat

Oleh: Sarinah. (Komunitas Literasi Islam Bungo)

JAMBI ~ Deteksijambi.com — Kasus Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di provinsi Jambi meningkat di tengah kabut asap, akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dinas Kesehatan Provinsi Jambi mencatat 7.824 kasus ISPA hingga minggu ke -36 atau periode 6-12 September 2026. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jambi dr. Ike Silviana mengatakan peningkatan kasus terlihat dalam beberapa pekan terakhir. Pada minggu ke- 34, jumlah kasus ISPA tercatat 7.521 kasus, sedangkan pada minggu ke-35, sebelum kembali meningkat menjadi 7.824 kasus pada minggu ke -36.

Kota Jambi tercatat sebagai daerah dengan jumlah kasus ISPA paling tinggi. Di kabupaten Bungo, kasus ISPA mengalami kenaikan cukup tinggi, mencapai 360 kasus pada minggu ke -35, naik menjadi 407 kasus pada minggu ke-35, melonjak hingga 948 kasus pada minggu ke -36.

Kasus ISPA di Kabupaten Batanghari sebelumnya berada pada kisaran 300-400 kasus per minggu juga meningkat menjadi lebih dari 600 kasus.

Kabupaten Tebo, tercatat 839 kasus pada minggu ke-34, jumlah itu meningkat menjadi 1.013 pada minggu ke-35 (detiksumbagsel18 September 2016).

Meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernafasan Akut, disebabkan oleh kabut asap kebakaran hutan dan lahan. Di tengah cuaca panas yang ekstrim ini, kebakaran hutan dan lahan terus terjadi. Jika hal itu di cermati lebih dalam, maka akan didapati bahwa terjadinya kebakaran lahan maupun hutan bukan murni karna bencana, melainkan karena sebagian hutan dan lahan dibakar dengan sengaja.

Pembakaran hutan dan lahan sering kali identik dengan pembukaan lahan untuk ditanami kelapa sawit atau perkebunan lainnya. Membakar hutan ataupun lahan seringkali dianggap cara yang mudah dan praktis sekaligus menghemat pengeluaran oleh masyarakat. Aktifitas karhutla menyebabkan keberadaan hutan tak lagi lestari, serta hewan-hewan yang tinggal di hutan tersebut terancam kepunahannya. Tak hanya itu, pembakaran hutan tersebut juga menimbulkan bahaya bagi manusia, karena asap dari pembakaran hutan dan lingkungan yang masif akhirnya menimbulkan berbagai penyakit, salah satunya adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut).

 Jika keberadaan polusi udara terus berlanjut maka, hal ini tentunya akan membahayakan kesehatan masyarakat. Dari fakta yang tertera di atas, meningkatnya kasus ISPA, ini jelas sesuatu yang tidak boleh dianggap remeh. Terutama bagi ank-anak balita yang rentan akan ISPA, ibu hamil, ibu menyesui, dan kelompok rentan yang sensitif dengan keberadaan kabut asap tersebut.

Pembakaran hutan dan lahan yang terjadi tidak lepas dari paradigma pengelolaan hutan ala Kapitalisme. Kapitalisme yang tegak menjadi sistem saat ini, memandang bahwa materi (harta) adalah sebagai tolak ukur dari kebahagiaan serta keberhasilan hidup. Maka wajar saja, jika masyarakat saat ini berlomba-lomba mencari harta demi kebahagiaan hidup, tanpa peduli dengan kelestarian alam bahkan kesehatan dan ancaman akan bahanya kabut asap bagi nyawa manusia.

Sistem sekuler yang tegak menjadi aturan kehidupan saat ini, membentuk masyarakat yang berkakteristik indivilualis, sedangkan tolak ukur dari perbuatan mereka adalah materi, memiliki ide sekuler, yakni memisahkan agama dalam kehidupan. Agama tidak dianggap penting, aturan Allah dikesampingkan dalam kehidupan.

Sementara itu, keberadaan negara dalam sistem Kapitalisme hanya bertindak sebagai regulator. Hanya memberikan aturan dan kebijakan, sementara pelaksanaan kebijakan tersebut tidak dipastikan apakah berjalan dengan baik dan apakah kebijakan itu memihak terhadap rakyat. 

Dalam kasus karhutla misalnya, negara hanya memberi denda terhadap para pelaku pembakaran hutan dan lahan, pemerintah hanya memberi edukasi medis kepada masyarakat,seperti himbauan untuk mengurangi aktivitas diluar ruangan, memakai masker saat bepergian, sekolah daring dll. Ini jelas solusi yang parsial tanpa menyentuh akar permasalahan.

Selain itu, bukan menjadi rahasia umum, jika kebijakan pemerintah seringkali tupul ke atas dan tajam kebawah, hal ini terlihat bagaimana para oligarki sang pemikim modal dibiarkan untuk mengelola hutan dan lahan secara masif, terjadinya eksploitasi terhadap hutan, menjadi saksi bisu atas kebebasan para oligarki pemilik modal yang membabat habis hutan demi kepentingannya. Sementara itu, rakyat kecil yang mengelola lahan untuk perkebunan yang tidak seberapa luasnya, menjadi target kartidak adilan pemerintah. Inilah wajah asli sistem kapitalisme yang tegak menjadi fondasi kehidupan bangsa Indonesia.

Sangat disayangkan, jika sistem yang salah yang mengelola negara, maka eksploitasi dan bentuk ketidakadilan niscaya akan senantiasa disaksikan, masyarakat menjadi korban, alam semesta dihancurkan. Ini terlihat dari berbagai kerusakan yang telah terjadi di negeri ini.

Hal ini tentu akan sangat berbeda dengan model pengelolaan sistem Islam. Hal ini sungguh telah terbukti 13 abad lamanya, pada masa Islam berjaya. Sistem Islam pertama kali diterapkan oleh Rasulullah Saw, manusia paling sempurna yang Maksum (terbebas dari dosa), kemudian setelah kepemimpinan beliau, dilanjutkan oleh para Khalifah, sampai pada masa kepemimpinan akhir khilafah Utsmaniyah, hingga runtuh kepemimpianan Islam pada tahun 1924. 

 Kepemimpinan Islam telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw, dan betapa Islam menjadi negara adidaya pada masanya. Kehidupan masyarakat adil dan sejahtera, pendidikan gratis, kesehatan gratis. Hal ini tentu dapat dibayangkan betapa sejahteranya umat saat itu. Hal ini sungguh berbanding terbalik dengan keadaan masyarakat saat ini. Kemiskinan, biaya sekolah mahal, biaya kesehatan mahal dan tidak bisa dijangkau masyarakat miskin.

Jika umat Ingin kembali pada kehidupan yang sejahtera, maka tidak boleh tidak harus kembali kepada Islam sebagai sistem kepemimpinan yang tegak di negeri ini. Dengan kembalinya Islam sebagai sistem hidup maka umat akan sejahtera dan terbebas dari segala bentuk kesengsaraan. 

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti kamu akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, Alhamdulillah Araf 96.

Penerapan hukum Islam yang didasari iman dan takwa secara kolektif di suatu wilayah akan mendatangkan kemakmuran dan berkah yang melimpah dari segala arah. Oleh karena itu, Sudah saatnya umat bersatu untuk mengembalikan kepemimpinan islam secara kaffah.**

Allahu a’lam bishawwab.