Oleh: Nurjaya, S.PdI
Deteksijambi.com ~ Kembali terjadi peristiwa yang memilukan di negeri yang menyematkan gelar penghormatan kepada seorang guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa ini. Sebuah peristiwa yang membuat kita terpaksa kembali menarik napas dalam-dalam dan kemudian mengelus dada. Sebuah tanda cinta dan sayang seorang guru justru dibalas dengan pukulan yang membuat tubuh guru tersebut luka-luka, berdarah. Bagi seorang guru, darah yang keluar dari tubuhnya tidaklah seberapa sakit, justru respon dan sikap dari pelajar itulah yang paling membuat guru merasakan sakit yang teramat sangat.
Peritiwa ini terjadi di kota Balikpapan Timur, Kalimantan Timur (Kaltim). Dari peristiwa tersebut, Polisi kemudian menetapkan 3 tersangka dalam kasus pengeroyokan terhadap guru dan kemudian diamankan pihak berwenang. Kasus tersebut dilaporkan melalui LP/B/111/VII/SPKT/2026/Polsek Balikpapan Timur/Polresta Balikpapan/Polda Kaltim tertanggal 21 Juli 2026. Para tersangka dijerat Pasal 262 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP.
Peristiwa ini bermula dari teguran korban kepada 2 pelajar SMA yang merokok dan masih mengenakan seragam sekolah. Namun alih-alih sadar akan kesalahannya, Pelajar tersebut justru tidak terima dinasehati dan kemudian mereka mengeroyok korban dengan bantuan paman dari salah 1 pelajar tersebut, pamannya ikut tersulut emosi karena informasi yang disampaikan dari ponakannya bahwa ponakannya mendapatkan pukulan dari guru tersebut.
Kini untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, 2 pelajar tersebut tidak ditahan dengan mempertimbangkan ketentuan dalam sistem peradilan pidana anak, dan mereka wajib lapor. Sementara dan paman dari pelajar tersebut harus mendekam dipenjara.
Kapitalis Kikis Kehormatan Guru
Kasus pengeroyokan guru tersebut menjadi gambaran bahwa saat ini penghormatan terhadap guru kian memudar. Teguran yang seharusnya dipahami sebagai bentuk cinta dan sayang, sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab dalam mendidik justru berujung pengeroyokan.
Fenomena ini menunjukkan pula bahwa hubungan guru dan peserta didik semakin bergeser. Guru tidak lagi dipandang sebagai sosok pendidik yang layak dihormati. Sementara sebagian siswa kehilangan kesadaran bahwa menerima nasihat dan koreksi merupakan bagian penting dari proses menuntut ilmu.
Memudarnya adab kepada guru tidak dapat dilepaskan dari arah sistem pendidikan yang lebih berorientasi pada pencapaian akademik dan keterampilan teknis dari pada pembentukan kepribadian. Pendidikan cenderung menempatkan keberhasilan pada aspek nilai, kompetensi, dan prestasi. sementara penanaman akhlak, penghormatan kepada guru, serta tanggung jawab moral sering kali tidak menjadi fokus utama. Akibatnya, lahirlah generasi yang memiliki pengetahuan, tetapi kurang memiliki adab dalam berinteraksi dengan orang lain, termasuk kepada guru
Kapitalis yang mengagungkan kebebasan dan menjunjung tinggi HAM membuat pelajar akhirnya merasa bahwa “posisi” mereka adalah sama tidak ada beda. Pandangan hidup ini terus menerus ditanamkan dalam sistem pendidikan itu sendiri dan akhirnya membentuk kepribadian pelajar menjadi seperti saat ini. Pelajar hari ini adalah output dari sistem hidup kapitalis. Cermin buruknya kualitas pendidikan kapitalis.
Sistem tatanan kehidupan yang jauh dari agama membuat kebiasaan dan tingkah laku pemuda pun berubah. Mulai dari kebiasaan merokok yang merugikan diri sendiri dan sekitar, hingga emosi yang tidak dapat dikontrol dan akhirnya menimbulkan kekerasan. Naluri mempertahankan diri memang fitrah, namun jika tidak disalurkan sesuai syariat justru akan merugikan orang lain, ditambah lagi akan menimbulkan dosa apabila itu sampai menyakiti orang lain.
Islam mencetak Generasi Shalih
Islam memandang pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia beradab. Rasulullah saw telah menyampaikan bahwa tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak.
Dalam sistem pendidikan Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Pelajar dididik untuk memuliakan guru (ta’dzim), sementara guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang. Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa menjaga etika dan adab ketika berinteraksi dengan guru. Sikap hormat, sopan santun, dan kepatuhan adalah beberapa bentuk adab yang perlu diperhatikan oleh setiap murid. Adab yang baik mencerminkan kualitas diri seorang pelajar dan merupakan salah satu kunci keberkahan dalam menuntut ilmu.
Ilmu yang didapat tanpa adab seringkali tidak membawa berkah. Seorang pelajar yang beradab akan lebih mudah menerima ilmu dan memahaminya dengan baik. Sebaliknya, pelajar yang kurang beradab bisa jadi ilmunya tidak bermanfaat atau bahkan menjadi sumber masalah. Ilmu dan adab harus berjalan beriringan. Ilmu tanpa adab bagaikan pohon tanpa akar, ia akan mudah tumbang. Menjaga hubungan baik dengan guru juga merupakan hal yang sangat dianjurkan. Mengucapan terima kasih yang tulus dapat mempererat tali silaturahmi dan menunjukkan rasa penghargaan. Pelajar harus memahami bahwa guru telah berjasa, mencurahkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk mendidik kita.
Guru adalah figur teladan, bukan sekadar pengajar. peran guru sangatlah fundamental. Mereka adalah orang yang mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk mentransfer pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai. Tanpa guru, manusia akan kesulitan untuk memahami kompleksitas alam semesta, ilmu pengetahuan, serta ajaran agama yang menjadi pedoman hidup. Proses pendidikan adalah kunci kemajuan peradaban. Guru berada di garda terdepan dalam proses tersebut. Seorang guru yang berkualitas tidak hanya menguasai bidang ilmunya, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia, sabar, dan ikhlas dalam mendidik. Mereka adalah teladan yang patut dicontoh.
Dalam banyak kasus, guru juga berperan sebagai orang tua kedua bagi anak didiknya. Mereka tidak hanya mengajar secara akademis, tetapi juga memberikan bimbingan moral, membentuk karakter, dan membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi pelajar. Keberadaan guru bahkan seringkali menjadi motivasi bagi pelajar untuk terus belajar dan berkembang.
Dalam Islam, negara harus memastikan kurikulum berlandaskan akidah Islam. Setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam. Apabila aqidah Islam selalu menjadi asas yang mendasar bagi kehidupan seorang Muslim, asas bagi negaranya, asas hubungan antar sesama Muslim, asas bagi aturan dan masyarakat umumnya, maka seluruh pengetahuan yang diterima seorang Muslim harus berdasarkan aqidah Islam pula, baik itu berupa pengetahuan yang diterima seorang Muslim, masalah – masalah politik, dan kenegaraan, atau masalah apa pun yang ada kaitannya dengan kehidupan dunia dan kehidupan akherat.
Dengan begitu, insyaallah akan lahir generasi shali yang menyejukkan mata dan hati siapapun yang melihatnya. Semoga generasi itu segera bisa kita wujudkan dalam negera Islam. Allahu mustaan.**














