Oleh: Fahira Mutya Mutmainna, S.Si (Aktivis Muslimah)
Deteksijambi.com ~ Dari sungai ke laut, Palestina akan merdeka – begitulah semangat yang terus bergema sebagai seruan untuk meminta kebebasan wilayah Palestina yang hingga hari ini masih berjuang melawan penjajahan zionis Israel.
Lantunan takbir “Allahu akbar” masih tergema di seluruh wilayah Gaza yang porak-poranda, menjulang di atas kehancuran besar akibat agresi pasukan penjajah. Pada pagi hari Jumat, 20 Maret, lebih dari 2,4 juta warga Palestina merayakan Idul Fitri dan melaksanakan salat berjamaah di dekat reruntuhan masjid yang hancur, serta di area terbuka di sekitar tenda pengungsian. Namun, perayaan ini berlangsung di tengah penderitaan yang tak berujung. Krisis kemanusiaan melanda secara parah: warga menghadapi kekurangan pangan, air bersih, obat-obatan, serta kerusakan parah pada infrastruktur. Bahkan, pasukan penjajah semakin memperketat pembatasan akses ke Masjid Ibrahimi di Hebron, Tepi Barat yang diduduki, hingga mencegah ribuan jamaah melaksanakan salat Idul Fitri di tempat suci tersebut.
Kantor Pemerintah Gaza mencatat bahwa pada tahun ini, suasana Idul Fitri tidak dirasakan dengan kegembiraan dan kemeriahan seperti biasanya, karena sebagian besar keluarga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar hidup. Lembaga ini juga melaporkan bahwa sejak Oktober 2025, pasukan penjajah telah melakukan lebih dari 2.000 pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata. Pelanggaran tersebut berupa penembakan, serangan udara, dan operasi darat yang telah menewaskan sedikitnya 677 warga Palestina dan melukai lebih dari 1.800 orang, di mana sebagian besar korban adalah warga sipil. (Minanews.net, 20 Maret 2026)
Hingga saat ini, penderitaan warga Gaza semakin terabaikan. Hal ini terjadi karena perhatian dunia dan kekuatan besar justru terpusat pada konflik antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran. Pasukan penjajah memanfaatkan situasi ini dengan menutup akses ke Masjidil Aqsa selama 14 hari berturut-turut sebelum akhirnya membukanya kembali. Selain itu, pengepungan terhadap wilayah Palestina semakin diperketat, sementara tindakan pemukiman ilegal di Tepi Barat berlangsung hampir tanpa hambatan.
Dalam kitab Ad-Daulah Al-Islamiyyah karya ulama asal Palestina, Syekh Taqiyuddin An-Nabhani, ditegaskan bahwa kelemahan umat Islam saat ini bukan hanya disebabkan oleh kurangnya kekuatan militer, melainkan karena tidak adanya kepemimpinan ideologis yang mampu menyatukan seluruh umat. Islam adalah sebuah ideologi yang berakar pada akidah bahwa Allah adalah Al-Khaliq (Maha Pencipta) dan Al-Mudabbir (Maha Pengatur), serta menjadikan Syariat Islam secara menyeluruh sebagai sumber aturan dan pandangan hidup. Sayangnya, negara yang berlandaskan ideologi Islam ini runtuh pada tahun 1924 M, yaitu sistem Khilafah yang sempat menjadi penyatu kaum muslim di seluruh dunia.
Sejak runtuhnya sistem Khilafah tersebut, sebagian besar umat Islam merasa bangga ketika diatur oleh negara-negara yang berideologi kapitalisme, serta terpecah belah oleh ikatan nasionalisme semata. Akibatnya, penderitaan demi penderitaan terus dialami oleh negara-negara dan komunitas umat Islam di seluruh penjuru dunia. Beberapa di antaranya seperti Gaza, Rohingya, dan Kashmir mengalami penjajahan secara fisik yang kejam. Sementara di negara-negara lain seperti Indonesia, Malaysia, dan Arab Saudi, penjajahan terjadi secara tidak langsung melalui penguasaan atas sumber daya alam dan pengaturan kebijakan, di mana kekayaan alam mereka dieksploitasi oleh negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, namun rakyatnya masih hidup dalam kemiskinan dan ketidakadilan.
Di sisi lain, beberapa negara Arab Teluk diam-diam mempererat kerja sama militer dengan negara-negara kafir, termasuk Israel, dalam menghadapi konflik dengan Iran. Hal ini terjadi di saat yang sama ketika mereka seolah melupakan penderitaan saudara-saudara seagama di Gaza yang terus berlanjut. Dalam situasi yang penuh kesenjangan dan ketidakadilan ini, perayaan Idul Fitri seharusnya tidak hanya dipandang sebagai momen kebahagiaan pribadi, melainkan sebagai kesempatan untuk merasakan dan memahami penderitaan yang dialami oleh seluruh umat Islam.
Rasulullah SAW menggambarkan hubungan sesama umat Islam ibarat satu tubuh yang utuh: “Perumpamaan kaum mukmin dalam saling mencintai, menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya akan ikut merasakan sakitnya, sehingga terasa tidak nyaman, sulit tidur, dan demam.” (HR. Muslim)
Penderitaan yang terus berlanjut di Gaza seharusnya menjadi kesadaran bagi seluruh umat Islam, termasuk para pemimpin di berbagai negara, bahwa Amerika Serikat dan Israel tidak pernah memiliki niat tulus untuk membebaskan Palestina dan memberikan kemerdekaan bagi rakyatnya. Bagi kedua kekuatan besar ini, Palestina hanya dijadikan alat untuk mencapai tujuan hegemoni kekuasaan di tingkat dunia.
Dalam perspektif Islam, Allah SWT memerintahkan untuk bersikap penuh kasih sayang dan lemah lembut terhadap sesama umat Islam, serta tegas dan kuat dalam menghadapi kaum kafir. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al-Fath ayat 29 yang artinya: “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.”
Prinsip ini bukan sekadar aturan tentang akhlak, melainkan hasil dari keimanan dan pemahaman yang mendalam terhadap ajaran Islam. Kepribadian yang dibentuk oleh ajaran Islam merupakan perpaduan antara cara berpikir dan sikap hidup yang berakar pada akidah yang kokoh. Oleh karena itu, kasih sayang kepada sesama muslim dan ketegasan dalam menghadapi kezaliman dan kekufuran bukanlah hal yang bertentangan, melainkan dua hal yang saling melengkapi dan lahir dari keimanan yang kuat.
Ukhuwah Islamiyah adalah ikatan yang paling kuat yang Allah SWT tanamkan di antara umat-Nya. Ikatan ini menjadi penyatu dan pengikat bagi seluruh kaum muslim di dunia untuk saling mendukung dan membebaskan saudara-saudara mereka dari penderitaan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 10 yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
Ikatan akidah inilah yang menjadi pengganti ikatan kesukuan, nasionalisme, atau kepentingan pribadi yang selama ini memecah belah umat Islam. Oleh karena itu, penderitaan yang dialami oleh komunitas dan negara umat Islam di berbagai tempat – baik di Gaza, Rohingya, Kashmir, maupun di negara lain seperti Indonesia, Malaysia, dan Arab Saudi – adalah penderitaan seluruh umat Islam, bukan urusan satu kelompok atau bangsa semata.
Namun, ukhuwah dan persaudaraan tanpa kesatuan kekuatan yang nyata tidak akan mampu mengubah keadaan dan membangkitkan semangat perjuangan. Allah SWT memerintahkan dengan tegas kepada kaum mukmin untuk melaksanakan jihad, sebagaimana tertulis dalam Surah At-Taubah ayat 123 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kamu, dan hendaklah mereka merasakan kekerasan darimu.”
Jihad adalah kewajiban yang tidak akan gugur sebelum dilaksanakan dengan cara yang nyata. Namun, perjuangan jihad saat ini dihadapkan pada kenyataan bahwa umat Islam terpecah belah menjadi puluhan negara berdasarkan batas wilayah yang dibentuk oleh kekuatan penjajah Barat setelah runtuhnya Khilafah Turki Utsmani. Akibatnya, perjuangan jihad yang dilakukan secara terpisah dan tidak terorganisir seringkali mudah dipadamkan oleh kekuatan musuh.
Oleh karena itu, perjuangan untuk membebaskan Palestina dan mewujudkan keadilan bagi umat Islam hanya akan menjadi sempurna jika seluruh negara dan komunitas muslim bersatu di bawah naungan sistem Khilafah yang berlandaskan cara perjuangan dan ajaran Nabi. Dengan adanya sistem Khilafah, seluruh kekuatan dan sumber daya umat akan bersatu dalam satu komando dan satu tujuan yang sama: untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi, serta membebaskan wilayah Palestina dari cekraman dan penjajahan.**
Wallahu a’lam bish-shawab.

















