Oleh: Isheriwati S.pdi (Komunitas Literasi Islam Bungo)
Deteksijambi.com ~ Zionis kembali berulah, tak cukup membunuh dan menyerang warga Gaza, membantai lalu mengenosida dan sekarang membangun tembok raksasa.
Tembok tanah raksasa sepanjang 23 km kini dibangun oleh Israel untuk membelah lebih dari separuh wilayah Jalur Gaza.
Keberadaan penghalang ini terungkap melalui citra satelit, yang menunjukkan pembangunannya berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Dilansir dari Associated pers, selasa ( 21/ 7/ 2026 )
Penduduk Gaza yang tinggal tidak lebih dari dua juta penduduk kini harus terpenjara lagi dengan adanya tembok tersebut.
Pembangunan tembok raksasa ini memperluas penguasaan militer hingga 70% wilayah.
Tembok ini menjadikan Gaza seperti “penjara terbuka” dengan kontrol penuh atas sumber daya. Dua juta penduduk Gaza kehilangan ruang hidup di kawasan pesisir yang sempit. pembangunan ini melampaui apa yang disebut sebagai “Garis Kuning”. Garis Kuning adalah garis yang disepakati dalam gencatan senjata fase pertama pada akhir Oktober 2025.
Garis ini membagi Gaza menjadi dua zona, yaitu Timur Garis Kuning dengan 53-58% wilayah Gaza dikontrol penuh oleh militer Zion*s. Batas Garis Kuning dengan 42—47% wilayah dikuasai Hamas dan menjadi tempat pengungsian bagi dua juta warga Gaza. Namun, belakangan Ham*s secara resmi telah membubarkan administrasi pemerintahan sipilnya di wilayah tersebut.
Pengamat internasional dari Al Jazeera menilai bahwa pengurangan ruang hidup ini mengarah pada aneksasi jangka panjang. Menteri Pertahanan Zion*s Katz bahkan menyatakan bahwa ”rencana emigrasi sukarela dari Gaza akan dilaksanakan pada waktu yang tepat.” Istilah ”emigrasi sukarela” sejatinya bermakna pembersihan etnis.
BoP dan New Gaza:
Board of Peace (BoP) dan New Gaza yang diklaim sebagai jalan rekonstruksi Gaza dan stabilitas politik hanyalah propaganda menipu yang merugikan warga Gaza. Dalam piagam BoP tidak ada kata freedom untuk Palestina, tidak ada rencana mengakhiri pendudukan Zion*s, dan tidak ada agenda mengadili Zion*s sebagai penjahat perang,
BoP membentuk pemerintahan transisi tanpa melibatkan rakyat Gaza.
Hamas pun membubarkan pemerintahan administratif pada 6 Juli 2026. Administrasi sipil dan pelayanan publik dialihkan kepada National Committee for the Adminstration of Gaza (NCAG). Namun, Zion*s memblokir masuknya NCAG ke Jalur Gaza sehingga Gaza tetap tanpa pemerintahan sipil.
Dengan demikian, tidak ada kedaulatan bagi Palestina. Kelompok perlawanan seperti Hamas dan Hizbullah justru dilabeli sebagai non-state violent actors (aktor non-negara yang melakukan kekerasan). New Gaza hanyalah proyek rekonstruksi yang mengulang pengalaman pahit negeri-negeri muslim yang dijajah Barat, sebagaimana di Irak dan Bosnia, lalu dieksploitasi untuk kepentingan bisnis perusahaan pendukung AS.
Jadi, BoP dan New Gaza merupakan mekanisme imperialisme yang melegitimasi sekaligus melanggengkan penjajahan atas Gaza.
BoP memadamkan perlawanan rakyat, menghapus kedaulatan, menyingkirkan Palestina dari pengambilan keputusan strategis, menempatkan keamanan di bawah kendali asing, serta mengarahkan Gaza sesuai kepentingan Amerika Serikat dan Zion*s Yahudi.
BoP dan New Gaza bukanlah solusi bagi pembebasan Palestina. Umat Islam tidak boleh tertipu oleh propaganda lembaga ini.
Solusi Islam:
Kaum muslim tidak boleh melakukan perjanjian damai dengan Zion*s Yahudi yang jelas-jelas memerangi umat Islam.
Imam Ibnu Taimiyah menegaskan, “Siapa saja yang membantu orang kafir memerangi umat Islam termasuk ke dalam kategori berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Majmu’ al-Fatawa, Juz 28).
Kaum muslim wajib menegakkan jihad melawan entitas Yahudi. Palestina adalah tanah kharajiyah, milik seluruh umat Islam, bukan sekadar milik rakyat Palestina atau bangsa Arab. Masalah Palestina adalah masalah umat Islam sedunia.
Sikap para penguasa negeri muslim dengan mendukung BoP atau menormalisasi hubungan dengan Zion*s Yahudi jelas merupakan pengkhianatan terhadap umat Islam. Mereka seharusnya menolong kaum muslim di Gaza,
dan bergerak membebaskan Palestina. Bukan menempatkan diri sebagai pelayan kepentingan negara-negara kafir penjajah demi mempertahankan kekuasaan masing-masing.
Maka penegakan Khilafah Islam untuk menyatukan kaum muslim, menghapus belenggu negara-bangsa warisan kolonial, serta menyingkirkan para penguasa pengkhianat di negeri-negeri Islam sangatlah urgen harus diwujudkan.
Umat islam wajib bersatu dan menyatukan seluruh potensi umat yang berlandaskan akidah islam serta memobilisasi tentara muslim untuk mengusir penjajah Yahudi dan negara-negara kafir pendukungnya.
Dengan ijin Allah insyaAllah khilafah segera tegak kembali, Palestina akan merdeka dan kemenangan kaum muslimin menjadi nyata.**
Allahu Akbar! Allahu a’lam bishawwab.














