Deteksijambi.com ~ Batang Hari, — Konflik antara petani sawit dengan Koperasi Jelutih Makmur dan PT Pratama Agro Sawit (PT PAS) semakin memanas. Petani yang dipimpin Sainusi memblokir akses jalan menggunakan batang pohon besar sebagai bentuk protes atas dugaan ketidakadilan yang telah berlangsung lama.
Petani merasa telah ditipu dan dizalimi oleh Koperasi Jelutih Makmur dan PT PAS. Mereka telah menunggu hak-hak mereka selama bertahun-tahun, namun hanya mendapat janji kosong. Hasil sawit tidak jelas, dan kebun dibiarkan hancur.
“Kami sudah bertahun-tahun menunggu hak, tapi hanya mendapat janji kosong. Hasil sawit tidak jelas, dan kebun dibiarkan hancur,” tegas Sainusi. Petani hanya menerima hasil sekitar Rp 200.000 per hektar, sementara kebun plasma rusak parah karena tidak ada perawatan dan pengelolaan profesional.
Masyarakat mendesak audit total terhadap Koperasi Jelutih Makmur dan meminta aparat penegak hukum untuk mengusut dugaan penyelewengan dana dan penyalahgunaan jabatan.
“Koperasi jangan dijadikan kedok. Hukum jangan dijadikan pajangan. Rakyat butuh keadilan, bukan sandiwara,” tegas Azhar, 30/04/2026.
Petani juga menyoroti keberadaan oknum aparat di lingkungan perusahaan yang diduga membuat rakyat kecil merasa tertekan.
Masyarakat menuntut sikap tegas pemerintah Kabupaten Batang Hari dan instansi terkait untuk menyelesaikan konflik ini secara adil.
Lebih memprihatinkan, warga mengaku ada tindakan kasar saat konflik berlangsung hingga menimbulkan luka. Bila benar terjadi pemukulan, maka itu wajib diusut karena tidak ada satu pun pihak yang kebal hukum.
Kini masyarakat menunggu sikap tegas pemerintah Kabupaten Batang Hari dan instansi terkait. Jangan sampai negara terlihat tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Bila hak petani terus diinjak, maka kemarahan rakyat bisa berubah menjadi gelombang perlawanan yang lebih besar.**

















